Nikel, Kendaraan Listrik, dan Dilema Ekologis Transisi Energi

Klikhijau.com - Nikel saat ini berada di jantung perdebatan transisi energi global karena perannya sebagai komponen penting dalam baterai kendaraan listrik (EV). Baterai lithium-ion, yang digunakan ol...

Nikel, Kendaraan Listrik, dan Dilema Ekologis Transisi Energi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Nikel saat ini berada di jantung perdebatan transisi energi global karena perannya sebagai komponen penting dalam baterai kendaraan listrik (EV). Baterai lithium-ion, yang digunakan oleh banyak produsen kendaraan listrik, sering kali mengandung nikel dalam jumlah besar karena logam ini meningkatkan kepadatan energi dan performa baterai.

Indonesia memiliki cadangan nikel yang sangat besar, sehingga negara ini menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global EV dan industri baterai.

Pemerintah Indonesia memandang cadangan nikel sebagai peluang strategis untuk mendorong pengembangan industri berteknologi tinggi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Melalui kebijakan hilirisasi nikel, seperti yang diatur dalam peraturan menteri ESDM terkait larangan ekspor bijih nikel mentah dan kewajiban pengolahan di dalam negeri, pemerintah berusaha mendorong tumbuhnya industri smelter serta produksi bahan baku baterai EV domestik.

Selain itu, Indonesia telah menerbitkan berbagai kebijakan pendukung transisi energi, termasuk Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2023 tentang percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan yang menggantikan Perpres No. 55 Tahun 2019. Perpres ini menjadi instrumen untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional dan mendorong investasi serta produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Posisi nikel ini didukung oleh UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) yang menjadi payung hukum kegiatan pertambangan di Indonesia, termasuk tambang nikel. Regulasi lainnya seperti peraturan pemerintah dan aturan teknis di bidang pertambangan serta lingkungan hidup menjadi landasan administratif bagi kegiatan hulu dan hilir nikel di Indonesia.

Peran strategis ini juga terlihat dalam kerja sama internasional. Misalnya, pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama dengan investor strategis seperti perusahaan Prancis untuk mendukung pembangunan fasilitas manufaktur baterai dengan fokus pada energi bersih dekat sumber energi terbarukan seperti tenaga hidro.

Namun, pragmatisme kebijakan ini menghadirkan dilema ekologis yang kompleks. Kepentingan ekonomi untuk mempercepat transisi energi sering kali berbenturan dengan isu lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal di wilayah penghasil nikel.

Dampak Lingkungan dan Sosial Ekspansi Industri Nikel

Meskipun transisi ke kendaraan listrik dipromosikan sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi, kenyataannya industrialisasi nikel di hulu juga memiliki biaya ekologis yang signifikan. Penambangan nikel, terutama di daerah tropis dengan hutan dan keanekaragaman hayati yang tinggi, seringkali menyebabkan deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan aliran sungai yang berdampak pada kehidupan masyarakat lokal.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2