Menteri Siti: Kiprah Profesi Insinyur Indonesia harus Merespons Persaingan Global

Klikhijau.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc menjadi salah satu peserta Pengukuhan Program Profesi Insinyur Angkatan I Tahun 2019/2020 IPB University, Sabtu...

Menteri Siti: Kiprah Profesi Insinyur Indonesia harus Merespons Persaingan Global
Bacakan Artikel

โ€œSebagai Menteri LHK yang hadir saat ini dari unsur Pemerintahan, saya menegaskan bahwa Pemerintah sangat mendukung langkah-langkah dan kiprah profesi Insinyur Indonesia,โ€ tegas Siti Nurbaya.

Menteri Siti menambahkan bahwa dalam mendukung SDM bidang lingkungan hidup dan kehutanan khususnya profesi Insinyur, pada tahun 2018 telah ditandatangani Nota Kesepahaman antara Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) dan Menteri LHK tentang penyelenggaraan Program Profesi Insinyur Bidang LHK.

Nota kesepahaman tersebut telah ditindaklanjuti dengan penandatanganan perjanjian kerjasamaย  antara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KLHKย  dengan Direktur Jenderal Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan tinggi Kemenristek Dikti tentang penyelenggaraan Program Profesi Insinyur Bidang Kehutanan.

[irp]

Profesi Insinyur dan pembangunan berkelanjutan

Rektor IPB University, Prof. Dr.ย  Arif Satria, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pada Sabtu 25 Juli 2020 merupakan acara Pengukuhan Insinyur Angkatan I sekaligus launching Program Profesi Insinyur IPB.

Semua lulusan adalah dari jalur Rekomendasi Pembelajaran Lampau (RPL) dan lulusan Angkatan I ini diharapkan menjadi SDM yang mendukung pelaksanaan Program Profesi Insinyur jalur reguler.

Terkait dengan bidang kehutanan, Prof. Arif dalam kesempatan ini secara singkat menyampaikan tentang inovasi smart forestry yang telah dihasilkan yaitu Fire Risk Systemย  yang merupakan sistem yang bisa memprediksi kebakaran hutan enam bulan sebelum kejadian.

โ€œKita tidak cukup hanya mengetahui pohon, kita harus mengetahui hutan, saat ini berbagai variabel begitu tali-temali sehingga kita tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan single variabel. Kita harus mengikuti tatanan baru dan kompleksitas yang ada sehingga pemahaman teradap ekosistem itu menjadi sebuah keniscayaan,โ€ tutur Prof. Dr. Arif.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: