Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam

Klikhijau.com – Lereng Senja, puisi itu dimuat dalam buku Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 2 yang disusun oleh H.B. Jassin. Buku itu terbit pertama kali pada tahun 1948. Buku tersebut memuat banyak...

Meneguk Puisi Harijadi S Hartowardojo “Lereng Senja” yang Disesaki Diksi Alam
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Lereng Senja, puisi itu dimuat dalam buku Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 2 yang disusun oleh H.B. Jassin. Buku itu terbit pertama kali pada tahun 1948.

Buku tersebut memuat banyak prosa dan puisi dari penulis Indonesia dari masa lalu, satu di antaranya adalah Harijadi S Hartowardojo.

Harijadi S Hartowardojo sendiri lahir pada tanggal 18 Maret 1930 di Prambanan, Jawa Tengah, ada 4 puisinya yang dimuat dalam buku tersebut, salah satunya adalah Lereng Senja yang disesaki dengan diksi alam:

 

Lereng Senja


 

Cut, seseorang telah pergi memahat patung di atas karang

1

Hujan sudah turun, kawan, hujan sudah turun
Panas yang kering tiada lagi kuasa
Memuaskan hausnya dan menelan air berluapan
Menggenangi sawah kita
Sawah yang akan dibajak ditanami
Sawah yang coklat hitam berbau tanah baru di balik
Menjangkau hidup berbungkal-bungkal

Hidup menanamkan akarnya mengembangkan
Daun muda tunas baru bersemi kuning menghijau
Di tengah lumpur
Serta tangan petani penuh kasih yang minta
Kasih padi pada kelanjutan
Kasih yang meresap pelan ke hati dunia
Di tengah perceraian matahari dan bulan
Bertemu cahaya dalam endapan kristal
Bambu meliuk menyanyi

Kita juga menurun, kawan, kita juga menurun
Cocok hidung kerbaumu dan bawa
Biar bajak kudukung melalui halaman kita
Sementara pintu pagar lama menunggu dibuka
Engkau lewat

Bila mata bajak sudah menemu tanah
Bau segar akan menghawa di dada
Dan pematang selesai kau tampal, peluk kerbaumu
Esok perempuan menggantikan kita menyebarkan
Benih-benih di tanah yang telah kita genangi
Air dan melumpur
Aku akan mengasah sabit dan cangkul
Mendengarkan bambu berlagu meliuk-liuk

Hati telah bertemu hati dan asmara datang
Bertimbang tenggang
Berjauhan pandang
Tak guna! Tak guna!

II

Gunung di depan layar biru kembar menjulang
Asal datang gempa berulang kali
Seminggu ini berpuncak merah menyala
Menyembur api malam hari
Semurka semesta
Siang murung berselimut mendung
Mengancam

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2