Wanita dalam Cangkang

oleh -57 kali dilihat
Wanita dalam Cangkang
Ilustrasi-foto/Pixabay
Nona Reni
Latest posts by Nona Reni (see all)

Wanita dalam Cangkang

 

Pada hakekatnya aku berbicara kepadamu
Dan ikut menenguk getir pahit dalam cangkir kopimu
Haus yang purba ini telah lama meminta pada gelas hampa yang pandai menagih kebeningan benda-benda.

Kau melipat diri di hadapan hal-hal gaib
Tersampai padaku sebagai kewajaran dari pohon-pohon, bukit-bukit dan padang-padang yang berlari
Seperti dalam kaca jendela mobil tua yang memasuki terowongan waktu

Gema-gema menggandakan suaranya, menyebut namamu semata.
Selayaknya kepak sayap burung yang memburu angin
Menyisakan guratan udara untuk dinapaskan dada
Aduhai wanita, yang dipunggungnya memikul cangkang, tersebut namamu selalu

Okt 21

KLIK INI:  Seperti Pernah

Magrib di Beranda

 

Katamu, tersekap di kampung halaman sama halnya dengan menanti kepunahan.
Aku mulai dihantui cacat keyakinan dengan sedikit kenyamanan.

Entah berapa banyak anak-anak yang mulai berlari
Seakan berlomba-lomba ingin meninggalkan tanah leluhur ini.
Menanggalkan adat istiadat, yang ari-arinya masih bergelantungan di puncak pohon asam itu
Bahkan saat sayup magrib jatuh di beranda, mereka seakan memintaku ikut berlapang dada

Aku berada dalam belenggu-belenggu yang kau ciptakan
Kau seolah asyik menertawakan
Namun mungkin memang beginilah kisah yang harus disembunyikan dari dunia luar
Biarlah, biar kugenapi tanah leluhur ini dengan amis darah tanpa sesiapa.

Okt 21

KLIK INI:  Mata Sulida

Benturan Peradaban

 

Aku berjalan ke kanan untuk menemukan tanah lapang yang isinya; anak-anak bermain bola bertelanjang dada, berkejar-kejaran dan lupa pada wasit yang meniup peluit tanda permainan usai.

Lalu berjalan ke kiri untuk menemukan robot-robot yang tunduk pada satu perintah atasan. Menebang pohon, mengeruk tanah, membangun tembok raksasa tempat dimana penguasa tak dapat disentuh hukum.

Lantas bagaimana kelak jika kanan dan kiri dibenturkan?
Mungkinkah gempa?
Mungkinkah banjir?
Ataukah tsunami?
Atau kiamat seperti yang tertera dalam kitab?

Pada akhirnya bukan lagi tentang menjawab pertanyaan bukan, tujuan puisi ini dibuat?
Sebab pada akhirnya, puisi jualah jalan pulang dari segala peradaban.

Sp, Oktober 21

KLIK INI:  Rupanya Pembalut Sekali Pakai Berbahaya Bagi Lingkungan