Menyesap 7 Puisi Beraroma Kopi dari M Yulanmar

oleh -51 kali dilihat
Menyesap 7 Puisi Beraroma Kopi dari M. Yulanmar
M. Yulanmar saat tambil membaca puisi-fot0/ist

Klikhijau.com – Kopi bagi banyak orang hanya sekadar minuman. Namun, ada segelintir orang yang menjadikannya lebih dari sekadar minuman.

Salah satu dari segelintir orang itu adalah M. Yulanmar. Lelaki kelahiran Makassar itu banyak menulis puisi beraroma kopi.

Kopi bagi lelaki yang menulis puisi sejak sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekarang, telah menjadi kebun tempat memanen inspirasi.

Dalam dunia penulisan, khususnya puisi M. Yulanmar bukanlah pendatang baru. Di awal- awal menyair, ia menyamarkan diri dengan nama Bhundy Brandy, lalu berganti Ariane Mays saat mahasiswa.

Ia Maysir Yulanmar, dan saat ini setiap karya tulis dan puisinya tertulis singkat M. Yulanwar.

Ia kerap menulis opini dan esai lepas di koran-koran lokal Sulawesi Selatan. Selain menulis M. Yulanwar giat melakoni kecintaannya pada photografi. Karya-karyanya diakui secara nasional; menyabet juara 2 pada kompetisi Foto Konstruksi 2014, dan juara 1 pada XL Award 2014 kategori wartawan.

Selain puisi dan foto, Yulanwar juga ‘melibatkan’ diri dalam dunia desain, khususnya grafis dan layout.

Puluhan perwajahan dan isi majalah terbitan Makassar adalah hasil buah karyanya, berikut ratusan perwajahan (cover) dan isi buku-buku terbitan Makassar dan nasional.

Sebagaimana disinggung di atas bahwa bagi M. Yulanmar kopi adalah ladang inspirasi, berikut ini 7 puisi darinya yang beraroma kopi:

 

MEJA 26

 

“Kita bersedih di sana,” ajakku.
“Dimana?” tanyamu.
“Di mejaitu, di pojokruangan.”
“Kenapaharus di sana?”

“Setiapaku duduk, di mejaituakuterbunuh,
kemarinmenjadikupukupu, hariinientahmenjadiapa.
Mungkinbuih yang dipukulpukulkemarau,” jawabku.

(Yulanwar, WarkopTuratea, Makassar 29.10.2017)

 

KUKA
LAH

 

Segelas kopi selalu mengalahkanku
: mengalahkan kebencianku padamu

(Yulanwar. WarkopTuratea. Makassar, 11.05.2018)

 

SER
UPUTPU
ISI

 

Agenda ngopi sore ini
: menyeruput puisi.

(Yulanwar. WarkopTuratea. Makassar, 04.11.2018)

 

KEPADA PEMILIK LENGAN
YANG TAK SENGAJA
KUTUMPAHI KOPI DINGIN

 

Romantisme telah menjarak.
Makassar membutuhkan Desember
Untuk menghadiahi kita sekotak sendu.

Rindu kita perdu di atas bantal.

(Yulanwar. WarkopTuratea. Makassar, 05/09/19)

 

TANYADE
NGANTANYA

 

Ia menanyakan padaku apa itu puisi(?)

Apakah erangan senggama, bau keringat kecoak di buku tua, atau kotoran warna saat petang adalah puisi? Apakah kematian juga puisi? Duri mawar yang digunting? Kancing lepas? Apakah semua yang tersentuh adalah puisi? Lelaki itu terus bertanya. Ia menemui jurang berdasar laut, saat kuhentikan tanyanya dengan tanya:

“Berapa banyak kopi hitam dalam darahmu untuk menerima jawabanku?”

(Yulanwar. WarkopTuratea. Makassar, 22.09.2019)

 

VANILA

 

Aku memiliki banyak pintu menemuimu, banyak jendela melihatmu. Lewat musim kusentuhmu, lewat malam kupelukmu, lewat hujanku belaimu, lewat wangi vanilla kugodamu.Kau menutup segala. Segelas kopi menjelma kuhantu.

Menembus dindingmu. Inap, berwisata di jantungmu
yang berdegup untuknya.

(Yulanwar. WarkopTuratea. Makassar, 21.12.21)

 

VIP 1

 

Jika kau tertidur dan diberi kejutan keajaiban,
Kau ingin terbangun dimana?
: di sampingmu.

Di ruang VIP 1 dengan meja berisi kopi tanpa pemanis.

(Yulanwar. UPNORMAL Cafe. Makassar, 01.02.2022)