Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam

Klikhijau.com - Pantun memiliki ciri khas tersendiri. Jenis sastra ini termasuk  salah satu jenis puisi lama. Pantun biasanya dituturkan secara lisan. Membuat pantun tidak mudah, sebab ada aturan “...

Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pantun memiliki ciri khas tersendiri. Jenis sastra ini termasuk  salah satu jenis puisi lama. Pantun biasanya dituturkan secara lisan.

Membuat pantun tidak mudah, sebab ada aturan “main” yang harus diikuti. Umumnya pantun terdiri atas empat larik atau empat baris bila dituliskan.

Pada tiap liriknya terdiri atas 8-12 suku kata. Persajakan akhirnya berpola, yakni   a-b-a-b ataupun a-a-a-a. Aturan main itulah sehingga tidak semua orang, termasuk penulis bisa membuatnya.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi  Tri Astoto Kodarie, penyair yang kini tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan itu lihai membuat pantun.

Bahkan ia sanggup membuat satu buku khusus kumpulan pantun, judulnya Aku, Kau, dan Rembulan. Buku itu diterbitkan oleh De la Macca pada tahun 2015 lalu.

Buku pantun dari Lelaki kelahiran 29 Maret  1961 di Jakarta itu menjadi angin segar bagi pencinta pantun. Karena  tentang pantun pun tidak terlalu banyak yang beredar di pasaran.

Dalam buku kumpulan pantunnya tersebut, Tri Astoto Kodarie banyak mengisahkan tentang alam. Berikut 7 di antaranya:

 

Pantun Ladang Jagung


 

Burung terbang hujan pun datang
Subur tanaman gembira peladang
Susah hati bila ada belalang
Makan dedaunan sampailah kenyang

Pagi disiangi, sore disirami
Tumbuh menjulang dan bersemi
Bunga-bunga nampak mengembang
Bakal buah pun tak lama menjelang

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2