Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam

Klikhijau.com - Pantun memiliki ciri khas tersendiri. Jenis sastra ini termasuk  salah satu jenis puisi lama. Pantun biasanya dituturkan secara lisan. Membuat pantun tidak mudah, sebab ada aturan “...

Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam
Bacakan Artikel

Hijau subur dedaunan dipermainkan angin
Burung-burung terbang ke tempat lain
Jagung-jagung telah menguning
Senyum pun mulai tersungging.

Pantun Alam


 

Berburu rusa di tengah hutan
Suara nyaring merdu ayam bekantan
Jagalah selalu tanaman dan lingkungan
Agar jauh bencana dari kehidupan

Berharap hidup di sepetak lahan
Pohon berjejer jadi rerimbunan
Lestari alam menghampar kehijauan
Bunga warna-warni di antara dedaunan

Meliuk-liuk burung elang bermain di udara
Melestarikan alam wujud cinta pada bangsa dan negara.

 

Pantun di Sawah


 

Sawah menguning bak permadani
Nyiur melambai semerbak melati
Tertawa riang para petani
Panen tak lama gembiralah hati

Bulir-bulir padi yang bernas
Tangkai kokoh menopangnya
Para petani berhasil karena kerja keras
Pagi sore menyiangi tiada hentinya.

 

Pantun Padang Ilalang


 

Gundah gulana menyapa kalbu
Petir berkilat hujan membadai
Kalau engkau lupa nasihat ibu
Mungkin cita-cita takkan tercapai

Memasak udang lupa buang kulitnya
Bencana datang baru tahu sebabnya

Sungguh berliku jalan ke gunung
Berhenti sebentar minum air buah nira
Usaha sedikit mendapat untung
Karena hati selalu gembira

Menanti rembulan di padang ilalang
Pesan diingat agar tak malang.

Pantun di Sungai


 

Mandi di sungai berbatu landai
Gemercik air mengalir deras
Jangan melompat seperti tupai
Kalau jatuh berdebam keras

Bermain rakit dari hulu hingga hilir
Rakit didayung memecah air
Biarkan hidup terus mengalir
Karena lumut bisa kita tergelincir

Pohon peneduh di pinggir sungai
Burung kepodang melompat riang di dahan
Hutan lestari angin membelai
Bagai belahan jiwa di dalam kehidupan.

Pantun Kupu-Kupu


 

Indahnya terbang di antara kembang
Sayap melambai tersentuh dedaunan
Hinggap di dahan kembali terbang
Kupu-kupu mungkin mencari kawan

Warnanya hitam bertitik-titik kuning
Terbang melayang terbawa angin
Matanya indah berwarna bening
Kupu-kupu lucu nampak bermain.

 

Pantun Selembar Daun


 

Bambu di hutan tumbuh berbatang-batang
kemarau panjang kering kerontang
seperti ada batang cendawan tumbuh
doa dan rezki itu jaraknya tak jauh

Sembunyi di balik daun sehelai
emak di dapur memasak gulai
janganlah suka bekerja yang sia-sia
menghitung waktu jalanlah usia

Selembar daun ditekuk tak bisa
orang bertobat hal yang biasa
janganlah kehendak itu dipaksa
tak peroleh untung tapi binasa.

Itulah 7 pantun dari Tri Astoto Kodarie. Penyair yang berprofesi sebagai pendidik ini, selain menulis buku untuk menyiarkan tulisannya, khususnya puisi. Dia  juga membacakan puisinya di chanel youtubenya sendiri “TriAsKodarie Channel” jika tertarik mendengarnya silakan dikunjungi!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2