6 Penyair Arab Beserta Puisinya dengan Diksi Alam yang Menyentuh

Publish by -11.342 kali dilihat
Penulis: Redaksi
6 Penyair Arab Beserta Puisinya dengan Diksi Alam yang Menyentuh
Ilustrasi/foto-iqra.id

Klikhijau.com – Setiap negara pasti memiliki penyair yang memotret realitas sosial yang ada. Tak terkecuali negara negara Arab, juga melahirkan penyair yang lebih dikenal dengan nama penyair arab. Penyair-penyair ini juga berhasil memotret realitas yang ada di negaranya.

Puisi-puisi yang dilahirkan dari penyair Arab memiliki ciri khas tersendiri. Banyak dari mereka menggunakan diksi alam yang menyentuh, membuat puisinya terasa lebih hidup dan dekat kepada pembaca.

Diksi atau pilihan kata merupakan kekayaan tersendiri bagi penyair. Dengan menggunakan diksi tertentu akan melahirkan efek metafora yang kuat. Alam atau lingkungan seringkali dipilih sebagai diksi dalam puisi.

Penyair Arab pun melakukan hal yang sama, berikut 6 penyair arab beserta puisinya dengan diksi alam yang kuat dan menyentuh:

KLIK INI:  5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun
  •  Nizar Qabbani
Pelajaran Menggambar

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku
lalu memintaku menggambar seekor burung.
Kucelupkan kuasku pada cat abu itu
kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu.
Matanya terbelalak heran:
“… Ayah, bukankah ini penjara,
tahukah kau bagaimana menggambar burung?”

Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku.
Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.”
Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku
lalu memintaku menggambar tangkai gandum.

Kugenggam pena
lantas kugambar tangkai senapan.
Anakku menertawakan kebodohanku,
bertanya
“Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan
tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan padanya, “Nak,
aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum
sekerat roti
dan kembang mawar.

Tapi di saat segenting ini
pohon-pohon hutan telah bergabung
dengan pasukan tentara
mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam.

Kini saatnya tangkai gandum bersenjata
burung-burung bersenjata
budaya bersenjata
bahkan agama pun bersenjata.

Kau tak bisa membeli roti
tanpa menemukan peluru di dalamnya
kau tak bisa memetik mawar
tanpa duri memercik di wajahmu
kau tak bisa membeli sebuah buku
yang tak meledak di sela jemarimu.”

Anakku duduk di tepi tempat tidur
lalu memintaku membacakan sebuah puisi.
Sebutir airmata jatuh di atas bantal.
Anakku merabanya, heran, berkata:
“Ayah, ini airmata, bukan puisi!”
Lalu kukatakan padanya:
“Nak, saat engkau tumbuh dewasa,
dan membaca diwan-diwan puisi Arab
kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya.
Dan puisi-puisi Arab
tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.”

Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya
di depanku
lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya.
Kuas di tanganku seketika gemetar
aku tenggelam, dan menangis.

Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London.

KLIK INI:  Laut Biru, Laut tanpa Plastik
  •  Mahmoud Darwish
Aku Tidak Minta Maaf Kepada Sumur Itu

Aku tidak minta maaf kepada sumur itu waktu aku melewatinya,
Aku pinjam dari pohon cemara tua itu sebuah awan
dan meremasnya seperti jeruk, lalu menunggu seekor gazel
putih dan legendaris. Dan kuperintahkan hatiku untuk bersabar:

Bersikap netrallah seolah kau bukan bagian diriku! Di sini
para penggembala baik itu berdiri dan mengeluarkan
suling mereka, lalu membujuk burung puyuh gunung masuk
ke dalam jerat. Dan di sini aku pasang pelana ke kuda untuk terbang menuju

planet-planetku, lalu terbang. Dan di sini para pendeta perempuan
mengingatkanku: Hati-hatilah dengan jalan aspal dan mobil
dan melangkahlah dalam hembusan nafasmu. Di sini
kusantaikan bayanganku dan menunggu, kuambil batu terkecil
dan berjaga sampai larut. Kupecahkan mitos dan kupecahkan.
Dan kukelilingi sumur itu sampai aku terbang dari diriku
ke sesuatu yang bukan bagian diriku. Sebuah suara rendah berteriak kepadaku:
Kuburan ini bukan kuburanmu. Jadi aku minta maaf.

Kubaca ayat-ayat dari kita suci yang bijaksana, dan kukatakan
kepada yang tak dikenal di dalam sumur itu: Salam bagimu di hari
kau terbunuh di negeri damai, dan di hari kau bangkit hidup
dari kegelapan sumur!

Terjemahan Saut Situmorang

Mahmoud Darwish mengalami masa-masa penentuan di Palestina. Kata pengantar buatan Mohammad Shaheen mengutip pengakuan Mahmoud Darwish semasa bocah di sengketa bersejarah Palestina-Israel.

Ia h lahir di Palestina, 1941. Pada 1948, ia dan keluarga menjadi pengungsi, bergerak ke Lebanon. Di situasi sulit akibat politik, Mahmoud Darwish menempuhi pendidikan dengan segala represi dan diskriminasi. Pada saat bertumbuh dewasa, ia sudah bersuara nasib dan negeri. Mahmoud Darwish mulai terbiasa masuk-keluar penjara.

KLIK INI:  Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu
  • Nazik al-Malaikah
Langkah Terakhir

Saksikanlah,wahai pepohonan
aku takkan lagi melihat dari bawah rindangmu
inilah aku, kini telah pergi, jangan kau tangisi kesedihanku
Sebab kesedihan dan harapanku tak akan menghukummu
Langkahku dalam gelap, jangan kau anggap ia
Sebagai langkah terakhirku di sini
mengembalikan nyanyian-nyanyian yang tak ia mengerti

Perlahan kau akan pupus jua sebagaimana diriku
Langkahku, tempat kembali segala kepiluan
Oh, andai saja aku mendengar suara nestapa
Andai saja aku kehilangan inderaku, andai saja
Mungkin aku tak kan menyaksikan mimpi yang asing itu
Mimpi macam apa yang layu di atas pasir
Kuukir diatasnya seluruh melodi hidupku
Seluruh mimpi dan khayal masa mudaku
Seluruh degup nada-nada

Kini, darimu, aku pergi, wahai pohon
Dalam jubah pengembaraan dan penghormatan
Andai saja aku beranikan diri untuk berjumpa denganmu
Memandangmu sekali lagi, tanpa air mata
Takkan kau rasakan, esok hari, dampak dari kesalahanku
Aku, wahai saudaraku, tak akan pernah kembali
Semua impian dan kacaunya mimpiku

Surga gemilang asa dan langkah pengembara
akan kutemui kayu dalam bayang bayang dan aku pun berlalu
Apa artinya, setelah ini, kayu yang rapuh itu?
Aku akan hidup, wahai langitku, diatas bumi
Maka akan kuselipkan cahya dalam hati terdalamku
Sampai jumpa, engkau, oh, impian masa mudaku
Apakah kau yang telah merajutnya lima puluh tahun lamanya
Dialah aku, hasrat yang terkubur di bumi
Dan akan kurahasiakan cita citaku yang getir dan penuh duka
Jalan-jalan yang indah akan menangis

Di atas kenangan-kenanganku, namun jiwaku tak akan pernah kembali
Wahai pohon pohon, anggaplah jiwaku berasal darimu
bahwa ingatan hasratku tak kan pernah padam
Dan aku? Jangan kau ragu, anggap saja engkau berasal dariku
Sungguh, kenanganmu di hatiku akan hidup kembali
Segala tentangmu akan mengakar dalam kedalaman diriku
Ia abadi sebagai penyair yang abadi
Wahai pohon-pohon, jangan, jangan ingat aku lagi
Aku hanyalah berhala keputusasaan dalam wujud manusia
Aku tak punya apa pun selain puing-puing kerinduan
Dan sisa-sisa nestapaku yang abadi

Dulu aku pernah terhempas di antara mendung-mendung
Menumpahkan mimpi-mimpi d dalam kedalaman hidupku
Bersamaku, anganku mengangkasa melebihi tinggi gemintang
Dan puisi mencipta hasratterindah untukku
Hai kayu, selamat tinggal dari kehidupanku
Senja telah tiba dan sungguh telah tiba pula keberangkatanku
Hapuslah yang telah lalu, hapus lagu-laguku
Lupakan lagu-lagu nestapa dan duka laraku
Hingga tak lagi kau ingat lagu lagu piluku, esok hari
Senandung suka dandukanaku

Lupakanlah aku, sungguh aku telah jauh pergi bersama dosa-dosaku
inilah aku tenggalam dalam kalbu senja

Nazik al-Malaikah bernama lengkap Nazik Shadiq Ja’far al-Malaikah. Lahir pada 23 Agustus 1923 di Bagdad. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mencintai ilmu dan sastra. Ibunya, Salma Abd al-Razâq, adalah seorang penyair. Sedangkan bapaknya selain seorang penyair juga seorang guru bahasa dan sastra Arab. Nâzik al-Malâikah termasuk pembaharu pertama dalam puisi Arab modern dengan memunculkan puisinya pada tahun 1947.

KLIK INI:  Menantu yang Diingini Ibu
  •  Jabra Ibrahim Jabra
Di Gurun-Gurun Pengasingan

Musim semi demi musim semi,
Di gurun-gurun pengasingan ini,
Mau apa kami dengan cinta kami,
Bila mata penuh debu dan udara beku begini?

Tanah kami yang hijau, palestina kami,
Bunga-bunganya seakan sulaman pada gaun wanita kami,
Bulan maret menghiasi bukit-bukitnya
Dengan bunga narsis dan kembang piun seindah permata

Bulan april mekar di padang-padang terbuka
Dengan kembang dan bunga-bunga bagi pengantin jelita,
Bulan mei ialah nyanyian pedesaan kami
Yang kami nyanyikan selalu

Di tengah hari di bawah bayang-bayang biru
Pohon-pohon zaitun di lembah-lembah kami,
Sementara di ladang-ladang yang bermasakan
Kami menunggu janji bulan juli
Dan tarian riang di tengah panen.

Tanah kami zamrud berkilauan,
Tetapi di gurun-gurun pengasingan
Musim semi demi musim semi,
Hanya debu yang bersiut di wajah kami.
Maka mau apa lagi kami dengan cinta kami
Bila mata dan mulut kami penuh debu dan udara beku begini?

Jabra Ibrahim Jabra lahir pada tahun 1919 di Betlehem, Palestina. Ia belajar di Perguruan Tinggi Arab di Jerusalem dan kemudian di Universitas Cambridge. Kini ia tinggal di Irak dimana ia terkenal sebagi novelis, kritikus dan penyair. Ia telah menerbitkan du kmpulan sajaknya: Tammuz fi al-Madinah (Juli di Kota), al-Madar al-Mughlaq (Lingkungan Tertutup).

KLIK INI:  Siasat Sebuah Kota
  • Ahmad Abd Al-Mu’ti Hijazi
Teks Untuk Sebuah Lanskap

Matahari terbenam di kaki langit musim dingin,
Matahari merah.
Awan-awan timah
Ditembus berkas-berkas cahaya,
Dan aku, seorang anak desa,
Disergap malam.
Mobil kami melulur benang aspal,
Mendaki dari desa kami ke kota
Dan ketika itu, ingin aku
Sekiranya dapat, menghebmuskan diri
Ke hijau daunan yang lembab itu!

Ahmad Abd Al-Mu’ti Hijazi lahir di sebuah dusun di Delta Nil tahun 1935, Hijazi belajar di pendidikan Tinggi Guru di Kairo. Ia mengembangkan kecenderungan-kecenderungan seorang sosialis, yang terbayang dalam puisinya. Karya-karyanya meliputi: Madinah bila Qalb (Kota tak Berhati), Lam Yabqa illa al-I’tiraf (Tiada Yang Tinggal Kecuali Pengakuan), dan Uras (Horace).

KLIK INI:  Kepada Pohon Pinus Itu
  • Ali Mahmud Taha
Nyanyian Pedesaan

Ketika air membelai bayang-bayang pohonan,
Dan awan-awan mencumbu cahaya bulan;
Burung-burung mempedengarkan nyanyian mereka
Bergema di antara embun dan bunga;
Dan merpati menyatakan gairah hatinya,
Mendengkur pada kekasihnya dan meratapi nasibnya;
Bibir-bibir angin menyapu permukaan air dan
Mencium setiap layar yang berlintasan;
Dari dalam malam bumi memperlihatkan
Beragam bentuk keindahan;
Di sana dalam gelap berdiri pohon safsafat
Seakan kelam di seputarnya pun tak melihat,
Dan dalam lindap bayang-bayangnya duduk aku
Dengan hati risau dan tatapan sayu.

Ali Mahmud Taha lahir di al-Mansurah, Mesir. Meski ia seorang insinyur, ia dikenal sebagai anggota gurp Apolo dan sebagai penyair romantik terkemuka di antara penyair-penyair Arab kontemporer. Ia banyak melakukan perjalanan ke Eropa dan merekam kesan-kesannya dalam sajak-sajak lirik, yang beberapa di antaranya dijadikan lagu dan menjadi terkenal. Himpunan sajak-sajaknya antara lain: al-Mallah al-Ta’ih (Pelat Sesat), Layali al-Malah al-Ta’ih (Malam Demi Malam Bagi Pelaut Sesat) dan Zahr wa Khamr (Bunga dan Anggur).

KLIK INI:  Tanah Air Mata
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Beberapa sumber

KLIK Pilihan!