Mangrove sebagai Pelindung Alami Garis Pantai

Klikhijau.com - Perubahan garis pantai terjadi karena adanya tekanan dari lautan dan daratan. Garis pantai berubah karena adanya pengikisan atau abrasi, dan adanya sedimentasi. Abrasi mengurangi masa...

Mangrove sebagai Pelindung Alami Garis Pantai
Bacakan Artikel
Abdul Motalib Angkotasan

Akademisi, peneliti, dan dosen Ilmu Kelautan di Universitas Khairun (Unkhair), Ternate, Maluku Utara

Mangrove menyediakan berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, kepting dan kimah yang dapat dipanen buat pemenuhan kebutuhan manusia. Noor et al (2006) menjabarkan dalam bukunya panduan pengenalan mangrove di Indonesia bahwa hutan bakau menjadi tempat berlindung dan berkembang biak ikan, udang dan kepiting.

Di pepohonan mangrove tumbuh berkembang berbagai satwa seperti burung, monyet dan lain-lain. Sistem perakaran mangrove menjadi pengumpul lumpur dan pencegah erosi pantai.

Vegetasi mangrove mampu melindungi perairan dari ancaman sedimentasi yang tinggi dan masuknya material dari daratan (run off). Masuknya material daratan ke perairan berpotensi menyebabkan pencemaran perairan yang berakibat pada kehancuran ekosistem lamun dan mangrove.

Fungsi mitigasi

Noor et al (2006) menjelaskan bahwa Mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai.

Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge, 1993 dan Othman, 1994).

Kemanfaatan untuk manusia

Batangnya digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar. Meskipun pemanfaatan ini tidak disarankan, karena jika diambil secara berlebihan akan merusak dan menghilankan fungsi utama ekosistem mangrove. Degradasi vegetasi tidak terhindarkan dan berujung pada menurunnya berbagai peran dan fungsi mangrove.

Masyarakat pesisir memanfaatkan daun Nypa sebagai bahan baku pembuat atap untuk kebutuhan pembangunan rumah. Industri tekstil juga butuh bahan pewarna yang bersumber dari mangrove (bakau). Sementara masyarakat pesisir di pulau kecil memanfaatkan beberapa jenis magrove sebagai bahan obat-obatan. Nypa juga diolah sebagai minuman berupa tuak dan menjadi bahan baku pembuatan gula dari nypa.

Masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan budidaya, memanfaatkan kawasan mangrove sebagai tempat budidaya kepiting rajungan, udang dan ikan. Jika proses pemanfaatan ini mau dilakukan, perlu memperhatikan daya daukung ekosistem mangorve sehingga tidak berdampak pada kerusakan ekosistem. Pasalnya, alih fungsi lahan mangrove untuk budidaya di berbagai lokasi di Indonesia terbukti memberikan dampak negatif terhadap keberlanjutan ekosistem mangrove.

Artikel singkat ini diharapkan menjadi referensi bagi pengambil kebijakan terutama kepala daerah di seantero Maluku Utara. Mari bersama membangun gerakan meletarikan ekosistem mangrove untuk keberlanjutan sumberdaya pesisir dan laut.

Gerakan ini butuh turun tangan semua pihak, pemerintah bersama LSM dan masyarakat sipil perlu punya cara pandang yang sama. Ekosistem mangrove harus diselamatkan. Jika ada industri ekstraktif tambang yang masuk, maka pemerintah harus memastikan bahwa ekosistem mangrove tidak ditebang untuk kepentingan industri tersebut. Pasalnya, tambang akan berhenti beroperasi pada batas waktu tertentu, akan tetapi kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem mangrove akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Artinya, kehancuran ekosistem mangrove hari ini adalah alaram bagi kehancuran masa depan generasi pesisir.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2