Lebaran, Ingatan, dan Wajah Kampung yang Berubah

Klikhijau.com - Sehari setelah lebaran Idul Fitri, saya, istri dan kedua putri saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman saya, di Desa Bontotanga, Kecamatan Bontotiro, Bulukumba, selain untuk be...

Lebaran, Ingatan, dan Wajah Kampung yang Berubah
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Klikhijau.com - Sehari setelah lebaran Idul Fitri, saya, istri dan kedua putri saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman saya, di Desa Bontotanga, Kecamatan Bontotiro, Bulukumba, selain untuk berziarah juga untuk bertemu saudara dan keluarga.

Desa ini mungkin tidak seindah desa-desa yang ada di Eropa seperti โ€œEdensorโ€, sebuah desa โ€œkhayalanโ€ Andrea Hirata dalam bukunya yang berjudul Edensor. Tetapi desa di mana saya bertumbuh, mampu menggetarkan ingatan-ingatan masa kecil dan keakraban dengan sahabat dan keluarga. Angin yang bertiup menggoyangkan daun-daun jati dan pucuk-pucuk daun gamal, orang-orang di kampung menyebutnya daun ambas, dan daun bambu mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil ketika berkelana di bukit-bukit, pematang sawah, kebun dan sungai-sungai.

Tempat yang mungkin kini terasa โ€œjauhโ€ dan yang kini kita mengatur jarak dengannya. Melihat desa dari kejauhan. Saya tahu keindahan desa ini tidak bisa disamakan dengan Edensor dan budaya Eropa yang melekat di sana, meski ada keinginan untuk ke Eropa; berkelana, dan mengunjungi tempat-tempat yang bisa "diromantisasi" dalam cerita.

Bontotanga, desa kecil ini menyisakan tempatnya sendiri untuk diceritakan. Desa ini asri sambil menikmati arunika dengan secangkir kopi. Telah banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Rumah-rumah yang dulunya banyak rumah panggung kini berganti menjadi rumah bata, masjid yang dulu sederhana kini menjadi mewah, yang dulunya hanya ada toko kelontong kecil, kini sudah ada Alfamart dan Indomaret yang selalu bertetangga dan rukun itu di perempatan jalan, dekat bundaran masjid, ada juga jalan yang dinamai dengan nama jalan mantan kepala desa, dan berbagai perubahan lainnya.

[irp]

Orang datang silih berganti. Datang dan pergi. Ada yang menetap. Ada yang memilih merantau. Saya salah satunya, memilih untuk tidak tinggal di kampung sendiri dan hampir anak seusia saya dulu, sudah tidak ada yang tinggal di kampung, semuanya memilih merantau, mencari kehidupan di sana. Saya semenjak kuliah, hilanglah segala keinginan untuk kembali ke kampung.

Saya mencari jalan sendiri. Hidup. Menemui aneka ragam watak dan strata sosial. Setiap tempat memiliki pengetahuan dan ceritanya masing-masing. Kalaulah belum dikenal, maka semoga dengan tulisan ini kamu bisa mengingat desa saya dan orang yang menuliskan ini, ataukah memutuskan untuk berjalan-jalan menemukan aneka macam cerita di sana. Tetapi tidak ada pantai di sana. Jika kamu hendak ke sana, kamu bisa menghubungi saya dan kita bercerita tentang daun-daun jati, gunung mungil, status quo, dan sebuah masjid yang ingin berinovasi menjadi Islamic Center sambil menikmati secangkir kopi di ujung jalan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: