Lebaran, Ingatan, dan Wajah Kampung yang Berubah

Klikhijau.com - Sehari setelah lebaran Idul Fitri, saya, istri dan kedua putri saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman saya, di Desa Bontotanga, Kecamatan Bontotiro, Bulukumba, selain untuk be...

Lebaran, Ingatan, dan Wajah Kampung yang Berubah
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Dalam suasana lebaran banyak sekali perantau, yang datang dari jauh-jauh berlebaran di tanah kelahiran, merayakan kebersamaan, bersendagurau bersama keluarga, menikmati jeda sebelum kembali ke rutinitas masing-masing. Desa menjadi sangat ramai. Ah, tidak banyak yang mengenal saya, sebagai generasi yang lahir belakangan. Beberapa mengenali saya hanya ketika usia saya belum genap sepuluh tahun. Dan mereka baru tersadar bahwa saya adalah bagian dari mereka sebagai keluarga ketika menyebut nama orang tua saya. Lagian saya juga bukan siapa-siapa kok. Hahaha.

[irp]

Selama berada di kampung tidak banyak yang bisa saya datangi, waktu tiga hari tidak cukup untuk bertemu semua keluarga menjalin silaturahim. Selain saya juga harus bertemu dengan teman. Belum lagi saya menyiapkan sehari untuk berjalan-jalan ke pantai. Rugi rasanya datang jauh-jauh tidak menyempatkan diri untuk berwisata; karena pantai Bira padat pengunjung setiap libur lebaran, saya memutuskan mengajak keluarga ke pantai Lemo-lemo, pantai berpasir putih hanya saja belum terawat dengan baik. Banyak sampah berserakan dimana-mana; botol plastik dan bungkus makanan kemasan.

Di Bontotanga inilah saya menyemai harapan dan kadang menyimpan perasaan sedih, tempat dimana Ibu saya dimakamkan berpuluh tahun yang lalu tetapi rasanya baru kemarin sore. Saya selama di kampung seperti memungut potongan kenangan yang berserakan. Yang ketika pagi menyeruput teh hangat dan kue-kue lebaran. Yang ketika menjelang malam tiba mendengar suara sholawat dan azan yang sayup dari masjid.

Tidak ada lagi orang tua yang menyambut selain kakak tertua, sebagai pengganti Ibu. Karenanya saya, istri dan kedua anak saya bermalam di rumahnya di Desa Tamalanrea hanya dipisah jalan, berbatasan dan berhadapan dengan Kelurahan Benjala. Juga tidak begitu jauh dari Bontotanga. Ia selalu menyiapkan makanan setiap pagi, siang, dan malam. Terasa seperti rumah sendiri. Di pekarangan rumahnya ada kebun kecil yang ditanami banyak tanaman sayuran dan pepohonan yang memagari. Ia tahu apa yang menjadi kesukaan saya ketika pulang kampung. Nasi jagung, sayur kelor campur kacang panjang, sambel tumis, dan lombok biji dicampur perasan jeruk purut serta ikan bakar, ikan yang dibakar di atas tungku dengan arang bekas kayu bakar.

[irp]

Kadang di waktu senggang membuat bakwan dan pisang goreng. Saya puaskan diri saya makan makanan kampung saya sebelum memutuskan kembali ke kota. Saya merekam, memotret gambar sederhana tempat-tempat dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Masjid, sekolah, rumah, pohon dan segala yang menyimpan kenangan. Dan segala yang memberi arti bagi hidup saya. Begitupun dengan orang yang pernah berjasa pada hidup saya.

Hari Jumat, ketika saya sampai di makam Ibu, daun-daun pandan dan bunga berupa warna terkulai di atas makam Ibu. Bekas hujan membenamkan diri ke dalam tanah, saya berusaha menahan diri, tetapi saya tidak kuasa menahan air mata menetes ke pipi saya yang jatuh secara spontan. Cepat-cepat saya seka dengan punggung tangan saya. Ada banyak yang ingin saya ceritakan pada Ibu tentang hari-hari yang saya lalui. Waktu terasa cukup singkat. Saya tidak ingin anak saya melihat duka di wajah Ayahnya.

Saya kira cuma badan saya yang remuk setelah perjalanan menembus macet ternyata ada bagian dalam diri saya yang remuk. Perasaan sepi yang selama ini coba saya sembunyikan. Selalu begini setiap lebaran, selalu ada ruang kosong, yang kerap kali luka-luka masa lalu datang mengetuk. Ternyata hati saya masih gemetar dan rapuh ketika segalanya berkaitan dengan Ibu.

[irp]

Saya kira saya sudah tidak gentar dengan segala badai hidup yang datang. Saya pikir hidup saya sudah ramai, punya keluarga sendiri, tinggal di pinggiran kota dan beraktivitas di sana serta segala fasilitas dan kemewahan Ibu kota. Dan selalu saya cari cara agar tidak kesepian, menemui teman, mencari tempat ramai; Warkop, pusat perbelanjaan, masjid, toko buku. Tetapi kenyataanya saya tidak berdaya di hadapan makam Ibu. Saya merindukan Ibu, yang hanya terobati ketika menjenguk makam Ibu. Saya berdoa dengan kata-kata yang singkat. Semuanya baik-baik saja. Saya mengatur napas dan segera meninggalkan makam Ibu.
***

Sekali lagi desa saya bukan Edensor, melainkan hanya sebuah desa kecil yang banyak ditumbuhi pepohonan yang setiap pagi burung-burung bersiul di atas ranting pepohonan, diapit oleh dua bukit yang ketinggiannya sekitar 100 hingga 200 meter, dan pohon-pohon kelor yang banyak tumbuh di sudut rumah warga. Yang ketika hujan rerumputan tumbuh dengan subur. Yang ketika pagi embun hinggap di dedaunan talas dan rerumputan. Tidak ada musim buah-buahan yang dapat ditunggu selain hanya kedondong dan jambu bol (jambu putih). Tidak ada langsat, rambutan dan durian. Meski Bulukumba juga dikenal dengan penghasil buah langsat, rambutan dan durian. Sayangnya tidak ada di desa saya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: