Kunang-kunang di Mata Vhy

Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya.  Itu menandai jika tak lama lagi akan pergantian musim. Dari kemarau ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan  ...

Kunang-kunang di Mata Vhy
Bacakan Artikel

Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya.  Itu menandai jika tak lama lagi akan pergantian musim. Dari kemarau ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan  adalah matanya.

Di sana ada sebatang pohon yang rimbun—pohon cinta. Tapi tak mudah menemukan pohon itu. Tersembunyi cukup dalam dan rahasia. Belum ada yang mampu menembus rintangannya—sebuah labirin yang cekam. Memasuki matanya, sama saja memasuki ruang kematian yang tak kenal batas. Kamu bisa hidup berkali-kali dan mati berkali-kali pula di sana.

Seorang lelaki kurus, telah berkali-kali ingin menetak rintangan itu. Tapi, seperti semua orang yang mencoba menerabasnya, akan jatuh terpental dan gagal.

Konon mata yang selalu dihijrahi kunang-kunang tiap jelang pergantian musim itu, adalah mata perempuan. Dan perempuan itu senang menari bersama kunang-kunang. Tentu saja makhluk kecil berkelip itu akan riang menemukan tempat dan teman menari.

[irp]

“Saya pernah melihat perempuan itu menari, mungkin sedang menarikan tari pakarena. Tariannya gemulai, matanya berbinar, liukan tubuhnya lembut. Saya lupa berkedip ketika melihatnya menari,” jelas Busran, seorang lelaki yang berkulit biji cengkih kering.

Lelaki kurus itu, mendengarnya dengan takjub. Ia belum pernah menyaksikan seorang perempuan menari segemulai yang diceritakan Busran.

“Saat ia menari, kunang-kunang berhamburan dari matanya. Saya kira saat itu semua penonton tak ada yang berkedip saking takjubnya. Itu pementasan tari pakarena yang paling tak terlupa bagi saya. Saya merasa diguyuri gerimis yang lembut,” lanjut Busran. Mata Busran kosong seakan menghadirkan kembali adegan tarian yang disaksikannya tersebut.

Sejak Busran melihat tarian itu, ia jatuh cinta pada tarian. Tapi ia berkali-kali kecewa karena gagal menemukan tarian gemulai seperti yang pernah disaksikannya—dengan perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.

“Siapa nama perempuan itu?” tanya lelaki kurus tersebut.

“Tak ada yang tahu, orang-orang hanya memanggilnya, Vhy,” jawab Busran.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: