Kunang-kunang di Mata Vhy

Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya.  Itu menandai jika tak lama lagi akan pergantian musim. Dari kemarau ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan  ...

Kunang-kunang di Mata Vhy
Bacakan Artikel

Percakapan itu berhenti. Senja datang terlalu cepat  dan ia harus pulang. Ia ingin menyaksikan kunang-kunang menari di antara pohon cengkeh. Dan ia ingin mengikuti kunang-kunang tersebut akan ke mana mereka terbang, menyelamatkan dirinya dari musim basah.

Jika benar pernyataan Busran, maka ada kemungkinan makhluk berkelip itu akan menuju ke mata perempuan penari tersebut.

Vhy, semalaman nama itu terus saja hadir dalam igaunnya. Ia berkali kali terjaga, tapi begitu tidur perempuan itu kembali masuk ke dalam tidurnya. Mengoyak sisi kelelakiannya. Matanya binar, serupa dipasangi lampu berwat-wat. Tajam menggetarkan. Rambutnya hitam pekat sedikit bergelombang. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi serasi dengan wajahnya. Alisnya melintang semut. Tingginya sekira 162 cm, gerakan tubuhnya terlihat awas tapi lembut.

Mengagumkan sekaligus membuat jantung lelaki kurus itu serasa palpitasi.

Besoknya, ia bangun telat. Matanya merah dan berkli-kali ia menguap. Ia menuju dapur—menyeduh kopi sendiri. Tapi sial baginya, gula telah habis. Tak ada jalan lain. Ia harus rela menyeruput kopi tanpa gul pagi itu. Saat ia menyeruputnya, bayangan bapaknya berlalu lintas. Bapaknya akan batu-batuk jika minum kopi yang bergula.

Suatu ketika, ada hajatan keluarga, bapaknya menghadari  hajatan tersebut dan ia disuguhi kopi yang telah beradu dengan gula. Tak ada alasan bagi bapaknya untuik menolak.  Bapaknya jadi tamu yang menghormati apa yang disuguhkan tuan rumah.

Bapaknya tak ingin merepotkan atau dianggap pilih-pilih. Maka diseruputnyalah kopi tersebut. Dan sesampai di rumah, bapaknya batuk-batuk. Seminggu bapaknya tak bisa tidur karena batuk hingga ia jatuh sakit. Kini bapaknya hanya terbaring lunglai di tempat tidur. Tubuhnya rapuh digerayangi batuk.

[irp]

*****

Busran datang ke rumahnya jelang siang. Wajahnya kusut, sebatang rokok bertengger mengerikan di bibirnya—lupa dihisap.

“Semalam kunang-kunang bergerak ke arah sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah timur. Di mana awan sedang bertarung menghalangi matahari.

“Terus?” tanya kelaki kurus itu

“Mungkin kunang-kunang itu menuju mata perempuan penari tersebut,”

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: