Jamaluddin Daeng Abu, Edukasi Petani di Kanreapia Gowa dari Rumah Koran

Klikhijau.com - Namanya Jamaluddin Daeng Abu, pria kelahiran Desa Kanreapia Kabupaten Gowa ini mulai terpanggil pulang kampung sejak menyelesaikan studi sarjana di Universitas Bosowa Makassar tahun 20...

Jamaluddin Daeng Abu, Edukasi Petani di Kanreapia Gowa dari Rumah Koran
Bacakan Artikel
Anis Kurniawan

Penulis, Editor in Chief Klikhijau

Klikhijau.com - Namanya Jamaluddin Daeng Abu, pria kelahiran Desa Kanreapia Kabupaten Gowa ini mulai terpanggil pulang kampung sejak menyelesaikan studi sarjana di Universitas Bosowa Makassar tahun 2011.

Ini semacam panggilan hati dan kepedulian pada kampung halamannya. Ia berkomitmen untuk mengabdi di desanya, membantu anak-anak dan petani untuk tumbuh lebih maju lagi.

Pria kelahiran 20 Agustus 1988 ini melirik program literasi sebagai pintu masuk dalam berproses di desa Kanreapia. Bukan tanpa alasan, Jamal sapaan akrabnya menilai bahwa salah satu problem masyarakat di desa adalah rendahnya literasi warga. Literasi yang rendah membuat masyarakat tidak punya kans untuk mengembangkan diri dan potensi desa lebih besar lagi.

Ia membayangkan suatu saat warga desa, terutama anak-anaknya mulai melek literasi. Niatan ini tentu tidaklah mudah, sebab sudah ada mental model yang mendarah daging dan tentu tidak mudah diubah segampang membalikan telapak tangan.

“Masyarakat sejak dulu lebih tertarik menjadi Pegawai Negeri atau merantau ke kota mencari pekerjaan ketimbang mengelola potensi desanya. Padahal potensi pertanian di desa sangatlah besar untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Ini soal mindset yang pelan-pelan harus diubah,” katanya.

[irp]

Dari sini, Jamaluddin kemudian terpikir untuk bergerak di bidang literasi. Ia pun terinspirasi untuk memanfaatkan kandang bebek di belakang rumahnya sebagai lokus bergerak. Di rumah koran itu, ia mulai menempelkan koran-koran bekas, dengan harapan anak-anak dan warga sekitar bisa mampir membaca atau setidaknya melihat-lihat gambar.

Jamaluddin sadar betul bahwa gerakan literasi di desa tidak mungkin digenjot dengan aktivitas membaca buku yang berat-berat. Hal itu karena minat baca memang sangat rendah.

“Setiap ke kantor kecamatan, saya melihat ada koran yang dibaca oleh aparat. Setelah dibaca, koran-koran tersebut dibiarkan begitu saja. Saya kemudian berpikir sepertinya menarik untuk menjadikan koran sebagai media untuk menarik minat baca masyarakat,” tuturnya.

Semangatnya adalah warga desa perlu motivasi untuk lebih semangat dan optimis.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2