Fesyen yang Membunuh Bumi: Menggugat Industri Sandang, Merawat Kembali Warisan Tradisi

Klikhijau.com - Dunia hari ini bergerak dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di era digital yang serba instan, konsumsi telah bermutasi menjadi sebuah aktivitas yang sangat mudah, mur...

Fesyen yang Membunuh Bumi: Menggugat Industri Sandang, Merawat Kembali Warisan Tradisi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Dunia hari ini bergerak dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di era digital yang serba instan, konsumsi telah bermutasi menjadi sebuah aktivitas yang sangat mudah, murah, dan nyaris tanpa hambatan. Hanya dengan beberapa ketukan jari di layar gawai, barang-barang yang kita inginkan, terutama produk sandang atau fesyen akan tiba di depan pintu rumah dalam hitungan hari, bahkan jam.

Harga-harga pakaian kian merosot ke titik terendah akibat efisiensi industri massal global. Namun, di balik gemerlap etalase digital, diskon besar-besaran, dan kemudahan logistik tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita ajukan, ketika semua barang menjadi semakin murah, apakah bumi yang sedang menanggung harganya?

Kenyataan pahit menunjukkan bahwa ekosistem global saat ini sedang berjuang keras untuk bertahan hidup di bawah tekanan konsumerisme manusia yang tidak terkendali. Sebuah statistik yang mengejutkan sekaligus memilukan mencatat bahwa sebanyak 3 dari 10 orang Indonesia memiliki kebiasaan membuang baju yang baru sekali pakai.

Di balik kemudahan belanja daring dan tren fast fashion (fesyen cepat) yang berganti setiap minggu, ada harga ekologis yang sangat mahal yang harus dibayar oleh alam. Dampak destruktif ini mewujud nyata dalam bentuk pencemaran air oleh zat kimia tekstil, lonjakan emisi karbon dari pabrik-pabrik raksasa, hingga akumulasi mikroplastik berbahaya yang kini telah menyusup ke dalam rantai makanan dan masuk ke dalam tubuh manusia.

Realitas kelam inilah yang dibedah secara tajam dan mendalam melalui film dokumenter terbaru bertajuk "Menolak Punah". Karya sinematik yang disutradarai oleh sutradara kawakan Dandhy Laksono bersama Aji Yahuti ini mengajak publik untuk menelusuri kembali jejak destruktif industri sandang kita.

Menggunakan gaya penceritaan yang deskriptif, sinematik, dan menggugah kesadaran, dokumenter ini tidak sekadar memotret kain-kain indah yang dipajang di etalase toko, melainkan melacak kehancuran lingkungan dari hulu produksi yang eksploitatif hingga hilir lingkungan yang sekarat di Indonesia.

Mulai dari nasib petani kapas lokal yang kian terabaikan akibat gempuran bahan sintetis impor, hingga tumpukan limbah tekstil yang kian menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Untuk membedah lebih dalam mengenai krisis ini, sebuah ruang diskusi publik digelar pada Minggu, 17 Mei 2026 (malam), bertempat di Oto Kopi, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Acara pemutaran dan diskusi film yang digagas Extinction Rebellion (XR) Makassar, KlikHijau dan Oto Kopi menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu Rizal Pauzi (Direktur Public Policy Network), Makmur Payabo (Yayasan Pabbata Ummi Indonesia), dan Mimi Asmi (Pendiri Wanua Panrita Kitta).

Melalui perspektif kebijakan publik, aksi akar rumput, dan pelestarian budaya berbasis komunitas, ketiga narasumber mencoba menjawab seberapa sering kita memikirkan dampak dari kemudahan konsumsi saat ini terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

Otopsi Kebijakan Publik dan Tantangan Menggerakkan Generasi

Apresiasi terhadap langkah-langkah kecil dalam penyelamatan lingkungan menjadi sorotan utama Rizal Pauzi, seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin sekaligus Direktur Public Policy Network.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2