Ekofeminisme, Tentang Relasi Gender dan Kehutanan

Judul buku: Gender dan Kehutanan Masyarakat Cetakan Pertama: Maret 2015 Tebal: 411 halaman Penerbit: deepublish Yogyakarta   Tidak banyak buku yang membahas masalah kehutanan dengan isu-is...

Ekofeminisme, Tentang Relasi Gender dan Kehutanan
Bacakan Artikel

Judul buku: Gender dan Kehutanan Masyarakat
Cetakan Pertama: Maret 2015
Tebal: 411 halaman
Penerbit: deepublish Yogyakarta

 

Tidak banyak buku yang membahas masalah kehutanan dengan isu-isu sosiologis, semenarik buku ini. Oleh penulisnya, Muh. Arba’in Mahmud diberinya judul “Gender dan Kehutanan Masyarakat”.

Dari judul itu, kita dapat menafsirkan arah kajian dan pembahasannya yakni melihat dimensi feminisme dalam ekologis. Terminologi ini kemudian disebut ekofeminisme.

Hutan belantara memang seringkali identik dengan maskulinitas dengan stereotipe laki-laki. Hutan sebagai yang belantara, banal, liar, seram dan mengerikan—adalah prototipe sosial yang selalu dilekatkan pada laki-laki (dalam masyarakat patriarki) yang beririsan dengan frase: berani, kuat, kejantanan, dan seterusnya.

Seberapa mungkin isu kehutanan dikaitkan dengan gender? Pertanyaan ini cukup mengganggu pikiran.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: