Ecobrick, Solusi Atau Halusinasi Menghilangkan Sampah?

Klikhijau.com - Ecobrick pertama kali diperkenalkan oleh Russel Maier, seniman asal Kanada setelah dia menyelesaikan mengenai proyek ecobrick-nya di Indonesia. Ide itu didapat ketika Maier mencari car...

Ecobrick, Solusi Atau Halusinasi Menghilangkan Sampah?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Ecobrick pertama kali diperkenalkan oleh Russel Maier, seniman asal Kanada setelah dia menyelesaikan mengenai proyek ecobrick-nya di Indonesia. Ide itu didapat ketika Maier mencari cara bagaimana mengatasi plastik-plastik bekas pakai yang banyak di lingkungan. Hingga pada suatu hari ketika dia berada di lembah Sagada, Filipina, gagasan itupun muncul.

Maier sadar jika plastik memiliki sifat yang anti air, awet, tak mudah dihancurkam, hingga yang tak banyak diketahui orang bisa menahan peluru. Dengan melihat sifat-sifat dasar plastik ini, mengapa tidak jika plastik dimampatkan menjadi sesuatu yang lebih praktis. Lahirlah ecobrick.

Cara membuatnya sangat mudah. Hanya dibutuhkan botol bekas, kumpulan plastik bekas pakai, gunting, dan batang kayu. Potonglah plastik-plastik bekas pakai menjadi potongan-potongan kecil, masukan ke dalam botol, dan mampatkan dengan tusuk kayu sampai benar-benar padat. Jika botol terisi penuh, satu buah ecobrick telah jadi.

Kunci membuat kreasi ini adalah soal kepadatan. Semakin padat akan semakin baik, tapi jika kurang padat botol bisa meliuk dan patah. Model bentuknya pun dapat dimodifikasi dari kebun, lego, serta perabot-perabot lainnya.

Ecobrick dipercaya memiliki banyak manfaat, khususnya dalam mengatasi sampah. Konon satu botol ecobrick bisa berisi hingga 2,5 kg plastik yang cukup untuk mengotori satu lapangan sepak bola. Ide ecobrick juga telah diadopsi oleh berbagai komunitas peduli lingkungan untuk menjaga nasib bumi, mengurangi risiko bencana, konservasi, hingga pemanfaatannya secara ekonomi.

Pelatihan-pelatihannya pun banyak dilakukan oleh komunitas-komunitas dalam rangka meningkatkan nilai lebih plastik bekas pakai melalui ecobrick, yang dipercaya menjadi salah satu pengolahan plastik menjadi produk yang ramah lingkungan.

Ecobrick dapat digunakan pula dalam keseharian seperti pembuatan furniture, sekat, dinding, dan yang pernah saya lihat adalah gapura. Sebagaimana namanya, brick ini memang berarti bata-bata yang biasa digunakan dalam bangunan. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang aplikatif bagi banyak orang.

Isolasi Sampah?

Popularitas ecobrick sebagai "isolator sampah" yang trennya juga telah mengglobal dan diadopsi oleh berbagai komunitas pecinta lingkungan memang menyisakan pertanyaan. Salah satunya, apakah memang benar ecobrick ini manjadi solusi sampah atau jangan-jangan ecobrick sekadar halusinasi mengatasi sampah?

Suatu hari, ketika Maier bersama istrinya berkunjung ke Kampung Ecobrick yang berada di Kelurahan Kebonmanis bersama istrinya Ani Himawati, dia menekankan jika bahan yang digunakan untuk pembuatannya adalah plastik bekas pakai, tidak "sampah plastik".

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2