Doko-doko Cangkuning, Kue Tradisional yang Tak Boleh Alpa dalam Pesta

oleh -3,030 kali dilihat
Kue tradisional doko-doko cangkuning
Kue tradisional doko-doko cangkuning-foto/Ucu' cooking
Nona Reni

Klikhijau.com – Pesta, semisal pernikahan suku Bugis-Makassar identik dengan jamuannya yang khas. Salah satu jenis jamuan adalah kue. Berbagai ragam kue akan disajikan, mulai kue tradisional—beppa to riolo (kue orang dulu) hingga kue modern.

Di antara kue tradisional yang tak boleh alpa adalah kue cangkuning. Suku Bugis menamai kue ini dengan doko’-doko’ cangkoneng atau cangkuning.

Sedangkan suku Makassar menamainya roko’-roko cangkuning. Doko’ dan roko’ memiliki arti yang sama, yakni bungkus.

Doko’-doko’ cangkuning bisa diartikan kue yang dibungkus. Pembungkus yang digunakan diambil dari alam. Jadi, cukup ramah lingkungan, yakni daun pisang.

KLIK INI:  Kenalkan Bolu Cukke, Bekal Perantau Bugis di Masa Lampau

Saat ada pesta, baik itu pernikahan, sunatan, akikah dan lain-lain tak akan komplit rasanya jika pemilik pesta tidak menyuguhkan kue yang dibungkus menggunakan daun pisang itu. Biasanya kue tersebut akan mengisi dalam bosara.

Doko’-doko’ cangkuning tak hanya disuguhkan saat ada pesta saja, tetapi juga menjadi salah satu penganan andalan saat berbuka puasa di bulan Ramadan. Selain itu, kue ini juga dijajakn—biasanya setiap pagi sebagai teman ngopi pagi.

Bahan dan cara membuatnya

Cara pembuatan doko’-doko’ cangkuning ini sebenarnya susah-susah gampang. Penganan dari campuran tepung ketan dan tepung beras ini cukup dicampur air daun suji dan garam lalu dimasak. Beberapa orang kadang menambahkan kapur siri dan tepung kanji, namun ini opsional. Boleh diskip jika tak punya.

KLIK INI:  Beppa Pute, Kue Penuh Filosofi yang Wajib Ada di Pesta Pernikahan

Saya ingat betul pertama kali belajar membuat dan membungkus doko’-doko’ cangkuning di sebuah pesta pengantin. Biasanya kue ini dibuat sehari sebelum acara resepsi dilangsungkan. Karena tak mahir, saya jadi bahan perhatian. Beberapa ibu-ibu tampak saling berbisik, barangkali merasa janggal melihat seorang perempuan yang tidak pandai membuat dan membungkus doko’-doko’ cangkuning.

Membuat doko’-doko’ cangkuning termasuk unik, karena daun harus dipotong berbentuk segitiga dibagian ujungnya. Setelah itu dibentuk kerucut hingga kemudian berbentuk piramida. Membuatnya ibarat melihat anak-anak TK melipat kertas yang lebih dikenal dengan origami.

Kue ini termasuk kue yang harus dikerjakan berjamaah, mulai dari membuat adonan pertama, lalu lapisan adonan (biasanya lapisan ini seperti fla putih) hingga membuat isian yang berupa gumpalan-gumpalan sebesar biji kelereng kelapa parut yang sudah dimasak bersama gula aren—orang Jawa menyebutnya unti kelapa.

KLIK INI:  Menakjubkan, Ini 6 Rahasia Tersembunyi Gambang Bagi Kesehatan

Bentuk kue ini agak mirip dengan kue mendut khas Jawa, tapi rasanya tentu sangat berbeda. Lembut dan legitnya doko’-doko’ cangkuning ini bisa bikin lidah bergoyang.

Jika kalian ingin mencoba membuatnya di rumah, kalian cukup menyiapkan bahan sebagai berikut:

Tepung beras ketan, gula, air suji, serta untuk isinya berupa parutan kelapa yang dicampur gula aren. Dan supaya lebih harum, biasanya ditambahkan potongan daun pandan wangi.

Kue ini tentu akan jauh lebih mantap rasanya jika dinikmati panas-panas atau yang baru selesai dikukus di atas kompor dan akan lebih nikmat bila dikawani dengan segelas kopi.

Orang-orang tua zaman dulu, saat belum mengenal kompor gas memasaknya di atas tungku kayu, sehingga aroma kayu bakar dari penganan yang satu ini terasa lebih original dan cita rasanya sudah pasti lebih lezat.

KLIK INI:  Lopisi', Kue Legenda, Kudapan Legit Manis yang Menggoda Selera