Dilema Biofuel, Ambisi B50 di Tengah Bayang-bayang Deforestasi

Klikhijau.com - Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan energi yang sangat krusial. Di satu sisi, pemerintah memiliki visi ambisius untuk mewujudkan kemandirian energi dan menekan emi...

Dilema Biofuel, Ambisi B50 di Tengah Bayang-bayang Deforestasi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan energi yang sangat krusial. Di satu sisi, pemerintah memiliki visi ambisius untuk mewujudkan kemandirian energi dan menekan emisi karbon melalui program mandatori biodiesel yang semakin progresif.

Di sisi lain, dunia internasional serta para aktivis lingkungan menatap dengan cemas, khawatir bahwa ambisi "hijau" ini justru akan memicu bencana ekologis baru berupa penghilangan hutan alam secara masif demi memenuhi kebutuhan lahan perkebunan.

Setelah sukses mengimplementasikan B35 dan beranjak ke B40, kini wacana B50 sebuah kebijakan yang mencampurkan 50 persen minyak kelapa sawit ke dalam solar, menjadi perbincangan hangat yang membelah opini publik antara optimisme ekonomi dan kecemasan lingkungan.

Alasan di balik dorongan kuat pemerintah untuk mengejar target B50 dianggap cukup logis jika dilihat dari kacamata ekonomi makro dan kedaulatan energi. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, mengandalkan sumber daya domestik berarti Indonesia dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan pada impor solar yang selama ini sering menguras devisa negara dan memberatkan anggaran subsidi energi.

Secara teoritis, transisi menuju biodiesel juga dianggap mampu menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi. Dengan membakar minyak nabati yang bersifat terbarukan, terdapat upaya untuk menggantikan karbon fosil yang terpendam jutaan tahun dengan karbon yang diserap oleh tanaman sawit dalam siklus pertumbuhannya.

Namun, narasi penyelamatan iklim ini seringkali dianggap terlalu menyederhanakan masalah karena mengabaikan variabel paling kritis yang disebut sebagai efek perubahan penggunaan lahan tidak langsung atau Indirect Land Use Change (ILUC).

Dilema terbesar dari kebijakan B50 terletak pada besarnya volume pasokan bahan baku yang dibutuhkan. Jika kita ingin mencampur separuh dari setiap liter solar yang dikonsumsi secara nasional dengan minyak sawit, maka kebutuhan akan Crude Palm Oil (CPO) akan melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan analisis dari berbagai lembaga riset lingkungan, termasuk Yayasan Madani Berkelanjutan, terdapat peringatan keras bahwa untuk memenuhi target tersebut, Indonesia memerlukan jutaan hektar lahan sawit baru jika produktivitas lahan yang ada saat ini tidak ditingkatkan secara revolusioner.

Dampak Ekologis Bukan Sekadar Angka

Masalah mendasarnya adalah ketersediaan lahan di Indonesia yang terbatas, jika permintaan meningkat tanpa dibarengi peningkatan hasil panen per hektar, maka pilihannya seringkali jatuh pada pembukaan lahan baru yang seringkali menjadi eufemisme bagi praktik deforestasi.

Ketika hutan tropis yang kaya akan simpanan karbon dibabat dan dikonversi menjadi perkebunan monokultur sawit, jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer dari pembukaan lahan tersebut jauh lebih besar daripada karbon yang berhasil dihemat dengan menggunakan biodiesel selama puluhan tahun ke depan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow