Dilema Biofuel, Ambisi B50 di Tengah Bayang-bayang Deforestasi

Klikhijau.com - Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan energi yang sangat krusial. Di satu sisi, pemerintah memiliki visi ambisius untuk mewujudkan kemandirian energi dan menekan emi...

Dilema Biofuel, Ambisi B50 di Tengah Bayang-bayang Deforestasi
Bacakan Artikel

Fenomena inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai "utang karbon". Selain masalah emisi, deforestasi akibat perluasan sawit juga mengancam keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.

Hutan Indonesia adalah benteng terakhir bagi spesies terancam punah seperti orangutan dan harimau sumatera. Fragmentasi hutan yang terjadi akibat pembukaan perkebunan baru tidak hanya merusak habitat, tetapi juga memutus koridor migrasi satwa yang memicu peningkatan konflik antara manusia dan hewan serta mengancam hak-hak masyarakat adat atas wilayah leluhur mereka.

Meski demikian, B50 tidak lantas harus menjadi sebuah jalan buntu jika dikelola dengan strategi yang tepat dan transparansi yang tinggi. Para pakar menyarankan bahwa alih-alih terus memperluas lahan, fokus utama pemerintah seharusnya beralih pada program intensifikasi, yaitu meningkatkan produktivitas kebun sawit milik petani swadaya yang saat ini masih jauh di bawah standar perusahaan besar.

Selain itu, diversifikasi bahan baku dengan mengintegrasikan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) dapat menjadi solusi cerdas untuk mengurangi beban pada minyak sawit murni sekaligus mengatasi limbah rumah tangga.

Pengawasan yang ketat melalui audit lahan serta penguatan sertifikasi berkelanjutan seperti ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) menjadi syarat mutlak agar setiap tetes biodiesel yang dihasilkan tidak meninggalkan jejak kerusakan hutan yang permanen.

Pada akhirnya, menimbang untung dan rugi B50 adalah soal keberanian untuk melihat melampaui angka pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Secara domestik, kebijakan ini memang menjanjikan penghematan devisa dan stabilitas harga komoditas bagi petani, namun secara global, kredibilitas Indonesia dalam komitmen Net Zero Emission sedang dipertaruhkan.

Jika B50 dipaksakan tanpa regulasi lingkungan yang kedap air, Indonesia berisiko kehilangan aset terpentingnya dalam memitigasi krisis iklim, yakni hutan alam yang tersisa. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu memastikan bahwa energi hijau yang dihasilkan benar-benar bersih sejak dari benih di perkebunan hingga keluar melalui knalpot kendaraan, tanpa harus mengorbankan paru-paru dunia demi kemandirian energi sesaat.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2