Patut Dicontoh, Masyarakat Serahkan Bayi Orangutan tanpa Induk ke BKSDA

oleh -23 kali dilihat
Bayi orangutan yang diserahkan masyarakat Kalbar-foto/Ist

Klikhijau.com – Satu individu bayi orangutan diserahkan oleh masyarakat Dusun Kuala Belian, Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, melalui Wild Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Sintang.

Penyerahan bayi orangutan berjenis kelamin betina itu dilakukan Selasa, 9 Juli 2024. Penemuan bayi orangutan yang  diperkirakan berusia tiga bulan itu diawali dengan laporan dari YIARI Unit Kabupaten Melawi.

Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Tim WRU SKW II Sintang bersama tenaga medis dari Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) untuk memverifikasi laporan dan melakukan tindakan penyelamatan. Setelah pemeriksaan dilakukan, kondisi bayi orangutan dinyatakan sehat.

Kepala SKW II Sintang, Joko Mulyo Ichtiarso, menjelaskan bahwa penyerahan bayi orangutan tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima. Selanjutnya, bayi orangutan akan ditempatkan sementara di Pusat Rehabilitasi YPOS untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

KLIK INI:  Catat, Jadwal Nicholas Saputra Berbicara tentang Satwa Liar di Indonesia!

Joko menyebutkan bahwa dari tahun 2023 hingga 2024, sudah empat kali dilakukan penyelamatan bayi orangutan di Kabupaten Melawi. Semua bayi orangutan tersebut diserahkan oleh masyarakat yang menemukan mereka tanpa induk di sekitarnya.

“Kami dari Balai KSDA Kalbar mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang menyadari bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang, sehingga mereka dengan sukarela menyerahkannya kepada pihak kami,” ujar Joko Mulyo.

Untuk menindaklanjuti penemuan ini, BKSDA Kalbar akan melakukan koordinasi dengan pihak desa atau perusahaan di sekitar lokasi penemuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

KLIK INI:  HKAN 2021, Kehati Gelar Diskusi ‘IG Live’ Perihal Penulisan Isu Konservasi Indonesia

Selain itu, Kepala Balai KSDA Kalbar, RM. Wiwied Widodo, menekankan pentingnya sterilisasi dan observasi di lokasi penemuan untuk memastikan keberadaan induk orangutan serta mengumpulkan data. Lokasi tersebut akan ditandai untuk pemantauan secara berkala.

Orangutan adalah primata endemik yang memiliki perilaku mirip manusia, di mana induk orangutan selalu menggendong bayinya hingga mereka mandiri pada usia 7-8 tahun.

Orangutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, sehingga penting untuk tidak mengganggu, melukai, atau memburu mereka saat ditemui di hutan.

“Tim kami juga akan mengadakan edukasi tentang perilaku orangutan di desa atau perusahaan tempat penemuan bayi orangutan sebagai upaya preventif terhadap potensi tindak kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi ini,” tutup Wiwied Widodo.

KLIK INI:  Laris Manis, 7 Jenis Bunga Ini Paling Diburu di Makassar!