Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah

Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah
Ilustrasi -foto/ KaiPilger/Pixbay
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Namun itu tidak penting. Saya juga tidak begitu peduli. Di sekolah saya tidak pernah masuk dalam sepuluh besar dari dua puluh delapan siswa. Teman-teman juga sering menjauhi kami, siswa yang tidak begitu pandai. Mereka hanya ingin berteman dengan anak-anak yang pintar, kaya dan punya garis keturunan yang baik atau berdarah biru. Guru-guru juga pilih kasih dalam memberi nilai. Seolah-olah siswa yang tidak begitu pandai dianggap ata. Saya benar-benar membenci itu semua. Dikiranya kita ini masih budak Belanda.ย 

Sejak saat itu saya mulai bersemangat untuk belajar. Malam itu, saya menatap buku. Saya mencoba mengeja huruf satu per satu. Mulai berlatih membaca dan berhitung di rumah. Kakak saya mengajari saya meski dengan susah payah. Keras dan bertalu. Ia mewarisi sifat ibu, jika Ibu seperti pokok pohon jati maka kakak Perempuan saya seperti pokok pohon mangga. Apakah mahluk bernama perempuan memang demikian? Kadang kakak saya menyuruh mengeja S ditambah E, tapi saya baca SEKOLAH.ย 

โ€œK ditambah U.โ€ kata Kakak saya sambil menunjuk buku belajar membaca. Saya baca KUDA.ย 

Yah! Saya sepertinya memang lamban dalam belajar. Kakak saya menyerah untuk mengajari saya waktu itu. Hingga suatu hari saya mulai pandai membaca dengan baik, saya sangat senang.ย 

Kini saya jadi murid yang paling rajin ke perpustakaan. Saya pinjam buku apa pun yang bisa saya bawa pulang. Saya mulai lancar membaca dan bisa menjawab soal matematika. Pelan-pelan, saya keluar dari ruang kelas Saya mulai sering berkunjung ke perpustakaan sekolah. Meminjam buku-buku cerita, ilmu alam dan sosial. Saya membawa buku-buku itu di bawah pohon Ketapang yang rindang lalu membacanya. Saya melahap bacaan yang ada. Ketika mobil perpustakaan keliling mampir ke sekolah, saya begitu antusias untuk meminjam buku untuk dibaca di taman baca. Pikiran saya mulai terbuka. Tumbuh dan berkembang. Gairah belajar saya bertambah. Saya membaca, saya melawan. Jika membaca membuat saya tidak bisa melawan, saya akan berhenti bersekolah. Itu janji saya dulu.ย 

Setamat SD, Ibu menyarankan saya masuk pesantren untuk belajar ilmu agama. Sekolah di SD saja demikian menakutkan di masa itu. Guru-guru yang mengajar seperti orang yang baru keluar dari barak. Apalagi ini di pesantren. Kenapa ibu tidak mendaftarkan saya sekalian jadi tentara. Saya merasa kesal pada Ibu waktu itu. Tetapi Ibu menginginkan saya menjadi ustaz. Tapi saya menolak. Di benak saya, sudah terbayang bagaimana kehidupan di sana. Saya lebih memilih masuk di sekolah umum. Di sekolah itu saya jauh lebih beradaptasi, mengalahkan anak-anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan. Tanpa sekat kelas sosial dan identitas.ย 

***ย 

Di teras rumah saya melihat anak-anak masih pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah. Saya tahu, di antara mereka ada anak yang dulu seperti saya: bodoh, lamban, dijauhi. Tapi saya juga tahu: setiap anak bisa tumbuh. โ€œTugas manusia adalah menjadi manusia.โ€ kata Multatuli. Dan bagi saya sekolah terbaik bukanlah ruang kelas dengan fasilitas terbaik yang kelak hanya menghasilkan kelas-kelas pekerja yang didoktrin menyesuaikan kebutuhan industri, tetapi melainkan hutan, gunung dan tanah lapang yang diam-diam mendidik saya menjadi manusia. Gugurnya daun bukanlah tanda kejatuhan melainkan upaya untuk berganti dan bertumbuh.ย 

Pilih Halaman: