Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah

Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah
Ilustrasi -foto/ KaiPilger/Pixbay
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Di luar kelas awan masih gelap dan air masih meloncat-loncat dari tanah. Tidak ada waktu untuk bermain seperti biasa. Di musim penghujan, bunga-bunga asoka dan kembang sepatu tumbuh, berkembang dan berbunga mekar di depan kelas. Rumput-rumput tumbuh dengan liar menutupi mata kaki. Bel kembali berbunyi dan pelajaran dilanjutkan dengan mengenal bahasa daerah atau lontaraโ€™ oleh pak Anwar, guru bahasa daerah.

Ia suka melucu dan sering usil dengan siswi perempuan dengan memegang tangan siswa perempuan ketika berkeliling memantau siswa-siswa belajar. Meski dianggapnya sebagai candaan, tapi sepertinya ia mengidap penyakit. Tidak hanya sekali. Sering kali begitu. Tidak satupun siswa yang berani melapor ke orang tuanya. Guru adalah penguasa. Sebagaimana pohon beringin tumbuh rindang dan gambar beringin menempel di ruang-ruang kelas.ย 

Hanya ada satu hari yang yang saya senangi adalah hari Jumat selain karena cepat pulang juga karena hari di mana saya belajar pelajaran kesenian dan menggambar, atau hari Ketika guru tertentu tidak hadir, maka guru yang menggantikan akan meminta kami menyiapkan buku gambar atau membagikan selembar kertas kosong untuk menggambar. Dan ajaibnya saya selalu menggambar dua gunung bersampingan dan matahari yang tersenyum di tengahnya dan pohon kelapa di tepi jalan. Hamparan sawah membentang melengkapi pemandangan. Sebagai anak yang tumbuh di kampung dekat gunung, pohon jati dan pohon kelapa sudah menjadi sekolah sewaktu kecil.ย 

Suatu ketika di lain hari saat pelajaran matematika, sebuah pelajaran yang tidak saya senangi, saya ditunjuk oleh Ibu guru mengerjakan soal perhitungan, penjumlahan bersusun di papan tulis. Saya mengerjakannya tetapi jawaban saya salah. Sial. Ibu guru memarahi saya, mendekatkan penghapus ke wajah saya lalu menampar wajah saya. Saya terpelanting. Wajah saya memerah karena bekas telapak tangan Ibu guru. Saya menahan tangis. Saya takut dengan Ibu guru. Saya kembali ke tempat duduk dalam keadaan menunduk. Kali ini bukan hanya ibu guru yang tertawa. Teman-teman ikut mengejek.

โ€œMasih saja bodoh. Itu-itu terus,โ€ bisik seorang anak paling pintar di kelas depan.

Saya ingin berteriak. Ingin keluar dari kelas dan tidak kembali. Tapi saya ingat kata Ibu: โ€œPokoknya kamu harus sekolah. Kalau tidak, kamu mau jadi apa?โ€

Ibu saya juga pernah berpesan jika ada yang memegang bagian kepalamu dengan maskud merendahkan, jangan diam saja. Kamu harus melawan. Tapi bagaimana saya bisa melawan. Ibu sendiri yang menitip saya di sekolah dan patuh kepada guru. Perasaan saya gamang. Sekolah macam apa ini.ย 

Ibu di rumah tidak tahu apa yang telah terjadi dengan anaknya di sekolah, yang ia tahu anaknya sedang belajar agar bisa pintar seperti Habibie. Ibu saya punya harapan tinggi terhadap saya meski saya termasuk anak yang terbelakang dalam menangkap pelajaran di sekolah. Ibu ingin saya jadi orang, punya jabatan atau pekerjaan yang terpandang.

Dulu Ibu saya sangat ingin jadi guru, cita-cita Ibu yang tidak sempat tercapai walau pendidikan sudah dituntaskannya di PGA. Ibu lebih memilih menjadi Ibu rumah tangga setelah menikah dengan ayah saya. Sebenarnya kalau dilihat dari garis keturunan, Ibu saya adalah seorang keturunan bangsawan tapi menikah dengan Ayah saya yang berasal dari keluarga petani. Atas nama cinta Ibu saya rela menikah dengan Ayah meski tanpa restu dari kakek, Ayah dari Ibu saya. Ia melepaskan segala bentuk embel-embel kebangsawanannya. Tidak banyak orang yang tahu. Ibu dan Ayah lebih memilih merahasiakannya. Menutup rapat-rapat rahasia masa lalunya. Dengan demikian garis keturunan bangsawan berhenti pada saya.ย 

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: