Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar

Klikhijau.com - Langit sore di bawah jembatan Tongkonan CPI. Saat cahaya kemerah-merahan mengiringi terbenamnya matahari, Fajar terlihat sedang sibuk mengemasi peralatan mancingnya. Setelah memasti...

Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar
Bacakan Artikel

Seolah tak ingin bernasib sama seperti kakaknya yang putus sekolah, Resmi kecil berniat untuk menyelesaikan sekolahnya, hingga menjadi mahasiswa. Katanya ingin seperti saya.

Tanpa disadarinya, Resmi telah tumbuh menjadi harapan keluarga. Daeng Gassing nampak begitu menaruh perhatian yang besar pada anak perempuannya ini. Cukup Fajar saja yang menjadi pelanjutnya, menjadi penangkap cumi-cumi. Terlebih lagi, dari beberapaย  anaknya, hanya Resmi seorang yang berhasil ia sekolahkan hingga SMP.

Meski begitu, stagnasi kemiskinan yang dialami Daeng Gassing mengancam masa depan Resmi. Keinginannya untuk berkuliah bisa saja runtuh jika kehidupan keluarga mereka tak kunjung membaik.

Beasiswa yang diterima Resmi memang sangat membantu meringankan beban pembayaran sekolah. Tetapi tidak dengan biaya-biaya lain seperti pakaian, buku dan uang saku yang masih menjadi tanggungan Daeng Gassing dan Fajar. Kemungkinan terburuknya ialah kesulitan ekonomi mereka akan membuat Resmi berhenti sekolah.

[irp]

Resmi menjadi satu dari puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan anak nelayan yang masa depannya terhambat himpitan ekonomi.

Jerat kemiskinan struktural yang menimpa keluarga mereka seolah membentuk pola lingkaran setan, bernama kemiskinan. Berbeda dengan anak laki-laki putus sekolah yang masih memiliki harapan kecil menjadi nelayan, anak perempuan putus sekolah dalam keluarga nelayan nyaris tak memiliki pekerjaan publik, selain bekerja serabutan dengan gaji dibawah rata-rata.

Mereka dengan terpaksa menjual tenaga kerjanya dengan harga murah sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Nasib buruk bagi mereka yang tak punya pilihan lain selain turun ke jalan, menjadi anak jalanan.

Ancaman lain yang mengintai perempuan kecil putus sekolah adalah pernikahan anak dibawah umur. Pernikahan anak seolah menjadi cara untuk melepas beban keluarga dengan memberikan kemandirian bagi mereka.

Terlebih lagi di beberapa masyarakat Indonesia, anak perempuan tak memiliki kesempatan untuk memilih kehidupannya sendiri. Alhasil, di usia remajanya, anak perempuan putus sekolah telah menjadi seorang istri sekalligus ibu.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: