Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar

Klikhijau.com - Langit sore di bawah jembatan Tongkonan CPI. Saat cahaya kemerah-merahan mengiringi terbenamnya matahari, Fajar terlihat sedang sibuk mengemasi peralatan mancingnya. Setelah memasti...

Cerita tentang Anak Nelayan yang Putus Sekolah di Tengah Gemerlap Kota Makassar
Bacakan Artikel

Namun impian kecilnya harus ia kubur dalam-dalam. Baginya, melihat senyuman di wajah adik kecilnya ketika diberi uang jajan menjadi anugrah tersendiri.

Tak seperti Fajar, Resmi adiknya masih bisa mengenyam pendidikan menengah. Sebuah kesyukuran tersendiri bagi Fajar dan ayahnya.

Resmi telah menginjak kelas 1 SMP di salah satu sekolah negeri dekat rumahnya. Meski menurut Ayah, Resmi kadang-kadang tak masuk sekolah.

Tetapi bagi ayahnya, Resmi masih memiliki antusias yang besar untuk bersekolah. Untungnya Resmi mendapat beasiswa sejak SD. Ayah dan Kakaknya tak terlalu memikirkan biaya sekolahnya, kecuali untuk membeli pakaian, buku dan untuk uang jajannya.

Selepas sekolah, biasanya Resmi tak langsung pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih menemui Ayah dan Kakaknya di kolong jembatan. Menemani mereka makan siang bersama. Dengan lauk hasil tangkapan cumi semalam, mereka masih bisa tersenyum bahagia, bersyukur masih dapat berkumpul bersama. Siang hari pun dilaluinya dengan bersantai di bawah jembatan.

Tepat di bawah jembatan, ada sedikit ruang yang mereka gunakan sebagai dapur dan kamar tidur. Memanfaatkan kayu-kayu yang dipungutnya di tepi jalan, Daeng Gassing dan Fajar membuat tempat tidur sederhana, beralas tikar yang mulai lusuh.

Di tempat itu juga selepas makan, Fajar dan adiknya beristirahat, bersenda gurau.

[irp]

Untuk naik ke kamar tidur sederhananya terlebih dahulu mereka harus menaiki anak tangga yang mulai retak. Dengan begitu berhati-hati, perlahan saya menghampiri kakak-beradik ini untuk mengobrol bersama mereka. Fajar dan Resmi begitu ramah dengan siapa saja.

Meski Fajar nampak sedikit pendiam dari adiknya, namun tak pernah sedikitpun senyum luluh dari wajahnya. Resmi begitu bersemangat menceritakan pengalaman sekolahnya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: