Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki

Klikhijau.com - Cekakak sungai adalah burung yang telah lama saya kenal. Sedari kecil, saya sering menjumpainya saat ikut bersama Ayah ke kebun. Warnanya yang terang membuat saya mudah mengenalinya. P...

Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Cekakak sungai adalah burung yang telah lama saya kenal. Sedari kecil, saya sering menjumpainya saat ikut bersama Ayah ke kebun. Warnanya yang terang membuat saya mudah mengenalinya. Punggung dan sayapnya berwarna biru. Dadanya berwarna putih bersih. Saya mengenalnya sebagai jekki. Jekki adalah bahasa lokal, Bugis.

Burung dari kelompok raja udang ini jarang menjadi sasaran penembak liar. Mengapa? Karena menurut orang Bugis, burung ini pembawa rezeki. Saat mendengar suara nyaringnya “jekki.. jekki..” Mereka lalu menitipkan pesan ke burung. “Jekkikan ka dalle”, yang berarti: bawakan saya rejeki.

Pak tani dan burung jekki menjadi sahabat. Suara si cekakak menjadi penghibur mereka saat mengolah tanah. Bahkan Ayah saya pernah bercerita kalau ia pernah menjumpai sarangnya. Ia tak mengganggunya. Membiarkannya.

Sang cekakak sungai pun membantu pak tani. Memangsa serangga yang berkeliaran di kebun sahabatnya. Memburu belalang, capung, ulat, hingga tikus kecil. Kemampuan cekakak ini tak disadari pak tani. Kemampuan memburunya yang turut menjaga hasil panen pak tani tetap melimpah.

Jadi target buruan untuk belajar

Setelah memutuskan untuk mulai mengamati burung, saya lalu menjadikan si pemilik nama latin: Halcyon chloris, sebagai target. Target sasaran kamera untuk belajar mengamati burung.

Saya memiliki beberapa spot untuk mengamatinya. Begitu pun saat saya pulang kampung, di kota kelahiran Habibie. Saya juga berkali-kali menjumpai di beberapa tempat yang berbeda di sana. Setidaknya ada tiga lokasi, tempat saya sering berjumpa.

Saya juga sering menjumpai si doi berkeliaran di sekitar perumahan di Makassar. Bahkan tak jauh dari rumah. Terkadang bersuara kala malam. Menjadikan saya begitu mengenal suaranya yang cukup ribut.

Terakhir saya menjumpai jenis yang sama tak jauh dari kantor, sekitar Bantimurung. Lokasinya sangat terbuka. Berada di tepi jalan poros. Saya pertama kali  menjumpainya saat pulang kantor. Bertengger di pohon tinggi yang lapuk. Pohon singgahnya mengering membuatnya mudah terlihat. Karenanya setiap kali melintas saya memerhatikannya. Apakah si doi lagi bertengger hari ini di sana?

Saya menjumpainya beberapa kali terutama pagi hari. Melihatnya asyik nongkrong di ranting langganan. Hingga akhirnya suatu pagi saya memutuskan untuk memburunya.

Memburunya dengan kamera. Tak perlu kamera yang bagus. Cukup kamera yang kita punya saja. Dengan kamera power shot dari bran berlabel merah, saya bergegas menghampirinya. Dengan tambahan monopod saya jadi semangat bisa peroleh gambar si doi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2