5 Tahun Perjanjian Paris, Indonesia Dinilai Semakin Memperburuk Krisis Iklim

Klikhijau.com - Tidak munculnya Indonesia dalam daftar pembicara pada acara peringatan lima tahun Perjanjian Paris, Climate Ambition Summit, yang akan diadakan pada 12 Desember 2020, seharusnya menjad...

5 Tahun Perjanjian Paris, Indonesia Dinilai Semakin Memperburuk Krisis Iklim
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Tidak munculnya Indonesia dalam daftar pembicara pada acara peringatan lima tahun Perjanjian Paris, Climate Ambition Summit, yang akan diadakan pada 12 Desember 2020, seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah yang belum memiliki target ambisius untuk mewujudkan target 1,5 derajat Celcius.

Untuk diketahui, Negara yang mendapatkan kesempatan berbicara dalam forum lima tahun Perjanjian Paris adalah mereka yang telah menetapkan target ambisius untuk mengurangi emisi GRK pada 2030, bahkan target nol emisi dalam jangka panjang.

Sementara, pemerintah Indonesia bahkan memutuskan untuk tidak menaikkan target Nationally Determined Contributions (NDCs), di mana hal ini bisa membawa dampak kenaikan temperatur global mencapai 4 derajat Celcius, jika negara-negara lain di dunia memiliki level komitmen yang sama dengan Indonesia.

Indonesia hanya menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030, atau 41% dengan dukungan dunia internasional.

[irp]

Kinerja Indonesia

โ€œSektor kehutanan dan energi menjadi dua penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar Indonesia. Tahun 2030, proyeksi total emisi kedua sektor tersebut 83%,โ€ kata Adila Isfandiari, Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Pada sektor energi, pembangkitan listrik masih didominasi tenaga batu bara. Menurut The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada 2030, penggunaan batu bara dalam pembangkit listrik harus turun sebanyak 80% dari posisi 2010.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: