Bagaimana Hubungan dan Interaksi Antara Serangga dengan Tumbuhan?

Publish by -430 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Bagaimana Hubungan dan Interaksi Antara Serangga dengan Tumbuhan
Ilustrasi serangga - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Interaksi antara setiap makhluk hidup dalam sebuah ekosistem memang sangat kuat, sebagaimana serangga dan tumbuhan yang memiliki hubungan khusus. Lalu, bagaimana keduanya berinteraksi satu sama lain?

Tumbuhan memainkan peran penting dalam ekosistem yakni dalam mengubah energi matahari menjadi bentuk energi kimia yang menjadikan komunitas lain dapat berfungsi (Odum, 1998).

Dalam ekosistem, tumbuhan juga menempati posisi paling strategis sebagai satu-satunya organisme yang mampu melakukan proses fotosintesis dengan energi matahari dan CO2 dari udara. Karenanya dikatakan bahwa tumbuhan merupakan produsen tunggal yang ada dalam ekosistem.

Tak hanya itu, tumbuhan juga menjadi sumber utama bagi kelangsungan organisme lain, sebagai tempat hidup dan sumber pangan makhluk lain, termasuk serangga. Atas alasan ini pula yang membuat kita harus menjaga dan melestarikannya.

KLIK INI:  Mengenal Capung, Sang Pendekar Ulung Pembasmi Nyamuk dan Indikator Pencemaran

Dalam komposisi kehidupannya, tumbuhan terdiri atas banyak mikrohabitat seperti daun, batang kayu, buah, pucuk daun hingga akar. Struktur yang komplek inilah yang menarik serangga untuk berinteraksi dengan tumbuhan.

Serangga merupakan satu organisme yang ditemukan hampir di seluruh permukaan bumi. Serangga dikenal sebagai organisme yang paling beragam dan lebih dari setengah dari semua makhluk hidup di dunia ini adalah serangga.

Hubungan timbal balik

Sejumlah penelitian menyebut, relasi antara tumbuhan dan mahluk lain sangatlah rumit dan bersifat timbal balik. Tumbuhan dibutuhkan makhluk lain sebagai sumber makanan, perlindungan, pertumbuhan bahkan untuk perkembangbiakan (Resosoedarmo, et.al,1984).

Untuk diketahui, hampir 50 persen dari serangga adalah pemakan tumbuhan atau fitofagus. Interaksi ini dipicu oleh sifat morfologi tumbuhan sebagai sumber rangsang bagi serangga dalam proses pemilihan dan penentuan inang.

KLIK INI:  7 Nilai Penting Kupu-Kupu Bagi Manusai dan Lingkungan

Sifat fisiologi yang mempengaruhi serangga berupa senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan oleh tanaman baik senyawa metabolit primer maupun senyawa metabolit sekunder (Speight, et al., 1999).

Senyawa metabolit primer berfungsi untuk mendukung proses pertumbuhan dan reproduksi tanaman. Oleh serangga, senyawa metabolit primer ini dapat berfungsi sebagai feeding stimulants, nutrient, juga zat toksik. Sedangkan, senyawa metabolit sekunder berfungsi sebagai stimulus bagi serangga.

Relasi khusus antara tumbuhan dan serangga merupakan komunikasi kimiawi, zat kimia yang berperan disebut semiochemical yang terdiri dari feromon dan alelokimia.

Feromon adalah zat yang mendukung komunikasi individu dalam spesies yang sama, sedangkan alelokimia merupakan zat yang mendukung komunikasi individu dalam spesies yang berbeda. Senyawa alelokimia dilepaskan oleh tumbuhan dan menjadi perantara interaksi antara tumbuhan dan serangga.

KLIK INI:  Karena Kecantikannya Caridina Diburu dan Terancam Punah

Senyawa kimia tersebut ada yang merugikan bagi serangga, adapula yang menguntungkan serangga. Senyawa yang dikeluarkan tumbuhan dan menguntungkan serangga disebut kairomon. Senyawa ini digunakan oleh serangga sebagai musuh alami untuk menyeleksi inang.

Senyawa yang dikeluarkan tumbuhan dan merugikan serangga disebut allomon. Senyawa ini berfungsi sebagai pertanahanan tumbuhan atau mengurangi kesempatan serangga untuk kontak dengan inang.

Ketertarikan serangga dimulai ketika ia menerima satu atau lebih sinyal yang berasal dari lingkungannya. Serangga mampu mendeteksi keadaan lingkungannya melalui indera yang terdiri dari bermacam-macam organ sensila seperti mekanoreseptor, khemoreseptor, thermoreseptor dan fotoreseptor.

Indra penglihatan dan khemoreseptor merupakan dua indera utama yang dapat membimbing predator ke habitat yang banyak mengandung mangsa atau pakan yang lain (Huffaker dan Mesenger, 1989).

Respons serangga predator dan parasitoid terhadap adanya senyawa volatil yang dikeluarkan oleh tumbuhan dipengaruhi oleh tingginya sensivitas organ reseptor penciuman.

Jika sumber senyawa kimia dari tumbuhan yang diterima oleh serangga kurang jelas, maka serangga akan bergerak dengan pola yang tidak teratur dan cenderung menuju pada benda di dekatnya. Kemudian bergerak kembali hingga serangga tersebut menemukan sinyal volatil tumbuhan yang disukainya (Van de Pers, 1981 dalam Metcalf, 1992).

Itulah penjelasan mengenai hubungan antara serangga dan tumbuhan yang menarik diketahui, semoga bermanfaat!

KLIK INI:  Antanan, Berkah dari Langit dan 5 Manfaat Ajaibnya
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Disarikan dari Buku "Pemanfaatan Tumbuhan Liar dalam Pengendalian Hayati", Wiwin Maisyaroh, 2014

KLIK Pilihan!