Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki

Klikhijau.com - Cekakak sungai adalah burung yang telah lama saya kenal. Sedari kecil, saya sering menjumpainya saat ikut bersama Ayah ke kebun. Warnanya yang terang membuat saya mudah mengenalinya. P...

Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki
Bacakan Artikel

Betul saja si doi masih tetap asyik memamerkan tubuh sintalnya. Saya memarkir kendaraan cukup jauh dan terlindung dari si doi. Saya pun mengendap-endap mencari tempat persembunyian. Mencari tempat yang cukup dekat dan tak terlihat oleh si doi. Tentunya juga tempat yang memudahkan memantaunya tanpa terhalang.

Saya mendapati tempat yang cukup cocok. Tempat yang juga terlindung dari matahari. Tepatnya di depan sebuah warung yang masih tutup. Lantai dasarnya datar dengan plasteran kasar, membuat saya mudah mendirikan monopod. Sekejap kilat saya memasang kamera dan mulai memanjangkan lensa saktinya.

Membuat setingan terbaik untuk kamera kecil pujaan. Beberapa pengendara memerhatikan tingkah saya tak biasa. Beberapa orang yang mengenal membunyikan klakson tanda sapaan. Maklum huntingnya di pinggir jalan poros Maros-Bone.

Si doi juga tetap anteng di ranting favoritnya meski sesekali suara truk yang melintas cukup berisik. Sepertinya si doi sudah terbiasa. Hingga beberapa jepretan berhasil saya peroleh. Meski tak semuanya sesuai dengan pose yang saya inginkan.

Pegel juga memotretnya. Tapi rasanya masih suka mengamatinya. Saya pun mencari posisi yang santai. Mencari bangku biar bisa nongkrong menikmati lekuk si doi. Saya akhir mendapati bongkahan batu yang cukup besar sebagai alas duduk.

Si doi sepertinya sedang bersantai setelah beberapa santapan sarapan. Sesekali ia bersuara nyaring. Ia kemudian terbang dan tak lama kemudian ia kembali. Kembali dengan se-ekor capung di paruhnya. Memburu capung besar dari genus Orthetrum. Lihai juga dia. Dalam sekejam mata ia melahapnya. Ternyata si doi juga pemburu ulung.

Tak lama kemudian seekor lagi bertengger di ranting yang lain. Wah tambah ramai nih. Saya belum bisa memastikan apakah keduanya adalah sepasang. Saya belum mampu membedakan antara jantan dan betina. Mereka lalu bernyanyi bergantian.

Tak lama kemudian salah satu dari mereka terbang. Seekornya lagi mengikutinya. Saya masih menunggunya. Berharap ia kembali dengan hasil buruan. Hingga beberapa menit kemudian tak ada tanda-tanda si doi kembali. Saya pun bersiap kembali beraktivitas dengan semangat dan riang.

Seru juga ternyata menikmati lekuk dan nyanyian si doi. Moga si cekakak sungai tetap menjadi sahabat pak tani. Juga tetap bisa bermain sesuka hati mereka di wilayah terbuka tanpa ancaman.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2