Cahaya Buatan di Garis Pantai Berpotensi Jadi Senjata Kehancuran bagi Ikan Kecil

oleh -119 kali dilihat
Agar Bebas dari Bahaya Polusi Cahaya, Begini Cara Mengatasinya
Ilustrasi cahaya lampu/Foto-Google

Klikhijau.com – Cahaya buatan yang bersinar dari garis pantai di seluruh dunia memancing ikan kecil mendekat. Ketika ikan-ikan kecil mendekat, mereka akan jadi santapan lezat para predator yang juga tertarik oleh kecerahan cahaya buatan tersebut.

Akibatnya, menurut penelitian,  ikan-ikan kecil atau yang masih muda bergerak kearah kehancurannya.

Cahaya buatan itu berdasarkan pengujian di Polinesia Prancis bertindak seperti ‘lemari es tengah malam’ yang penuh dengan makanan ringan lezat. Hal itu menarik ikan muda (kecil) dan juga predator.

Dilansir dari Earth, polusi cahaya telah  lama diketahui dapat menghambat kemampuan orang untuk melihat langit malam dan membahayakan burung yang bermigrasi, serangga, dan hewan lainnya.

KLIK INI:  Kawal Masa Depan Pesisir, PARPI Dorong Standar Nasional Reklamasi yang Berkeadilan

Hanya saja menurut Jules Schligler, penulis utama studi di pusat penelitian ekosistem karang internasional di Mo’orea, Polinesia Prancis dampaknya  terhadap ekosistem laut jarang diperhitungkan.

“Menurut studi satelit yang dilakukan satu dekade lalu. Cahaya buatan telah menerangi hampir seperempat garis pantai dunia, kecuali Antartika. Mungkin sekarang sudah lebih dari ini,” kata Schligler.

Schligler dan timnya melibatkan 12 lokasi buatan untuk lokasi uji karang di perairan lepas pantai Mo’orea dan menyinari setengahnya dengan cahaya bawah air. Schligler menemukan bahwa karang yang diberi cahaya buatan pertama-tama menarik larva ikan dan kemudian predator yang memakannya.

“Kami menemukan bahwa karang yang terkena cahaya menarik dua hingga tiga kali lebih banyak ikan dibandingkan dengan lokasi kontrol yang mendapat cahaya alami,” kata Schligler dikutip dari Earth.

“Karang dengan cahaya [buatan] merupakan lingkungan yang buruk bagi larva ikan karena ada lebih banyak predator, ikan oportunistik yang lewat, yang memakannya,” tambahnya.

KLIK INI:  Sampah Terbanyak Kedua di Pantai, Kemasan Makanan dan Minuman
Harus dilihat sebagai ancaman

Schligler mengungkapkan bahwa temuan tersebut menunjukkan cahaya buatan harus dilihat sebagai ancaman lain bagi populasi hewan laut dan ekosistem pesisir.

Meski begitu, Schligler menyarankan perlu penelitian lebih lanjut, meskipun cahaya buatan mungkin tampak bermanfaat bagi ikan predator.

“Itu bisa mengganggu tidur mereka, atau mereka bisa makan terlalu banyak, kita belum tahu,” ungkapnya.

Penelitian tersebut tidak meneliti mengapa larva ikan tertarik pada cahaya buatan, tetapi ada dua kemungkinan.

Karang yang diterangi cahaya buatan bisa seperti lemari es tengah malam yang penuh dengan plankton lezat yang juga tertarik pada cahaya. Plankton menarik larva, dan kemudian larva diikuti oleh predatornya.

“Atau mungkin cahaya itu sendiri dan prospek makanan yang menarik perhatian mereka. Apa pun itu, hal itu membuat mereka semua berperilaku tidak wajar,” kata Schligler.

KLIK INI:  Pemantauan Pemutihan Karang Dilakukan di Perairan Selayar, Begini Hasilnya!

Temuan tersebut, yang dipresentasikan pada konferensi Masyarakat Biologi Eksperimental di Praha, difokuskan pada dua spesies – dascyllus ekor kuning ( Dascyllus flavicaudus ) dan chromis biru-hijau ( Chromis viridis ) – tetapi dapat diterapkan lebih luas.

“Kami hanya dapat menyimpulkan sampai pada titik tertentu, tetapi temuan kami dan pengujian lain yang kami lakukan pada kepiting dan udang secara umum menunjukkan bahwa hewan laut,” tambah Schligler.

Sementara itu, Oren Levy, kepala laboratorium ekologi laut molekuler di Universitas Bar-Ilan Israel yang bukan bagian dari studi yang dipimpin Schligler, menyambut baik temuan penelitian Mo’orea. Menurutnya temuan tersebut sejalan dengan karyanya sendiri.

KLIK INI:  Menyelamatkan Padang Lamun dengan Terumbu Buatan

Selain risiko dimakan, Levy mengatakan penelitian Mo’orea menunjukkan cahaya buatan berdampak negatif pada proses penuaan ikan dan kesehatannya.

“Itu juga merusak terumbu karang,” imbuhnya, merujuk pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan cahaya buatan mengganggu reproduksi dan menyebabkan karang hancur.

Lebih positifnya, Levy dan Schligler mengatakan bahwa mencegah polusi cahaya, misalnya dengan menggunakan pengatur waktu dan peneduh, tidaklah sulit.

“Dan kita dapat mulai memperhitungkan cahaya untuk hal-hal seperti kawasan lindung laut,” kata Schligler.

KLIK INI:  Studi: Krisis Iklim Harus Direspons seperti Pandemi Covid-19

Dari Earth