Burung Enggang Gading, Pelestari Hutan yang Haus Perhatian

oleh -1,078 kali dilihat
Burung Enggang Gading, Pelestari Hutan yang Haus Perhatian
Burung Enggang Gading, Pelestari Hutan yang Haus Perhatian/foto-jalaksuren
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com –  Burung enggang gading merupakan jenis burung enggang terbesar di Asia.Biasanya dijumpai pada hutan tropis di wilayah Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Satwa ini mampu bersuara dengan nada suara keras yang khas (maniacal laugh) hingga terdengar jelas sampai sejauh 3 Km.

Enggang Gading mempunyai peran penting dalam kelestarian hutan.

Sayangnya,  berdasarkan daftar IUCN tahun 2018 enggang gading telah termasuk satwa berstatus terancam punah (Critically endangered).

KLIK INI:  Yumna, Sang “Garuda” yang Kembali Terbang Bebas di BTNGHS

Penyebabnya bisa diduga, adalah manusia—yang  melakukan perburuan liar, perdagangan ilegal yang cukup tinggi.

Tidak hanya itu, burung ini termasuk burung dengan  tingkat perkembanganbiakan yang lambat. Upaya merawat keberadaan satwa ini di alam mendesak untuk dilakukan.

Seperti kebanyakan motif perdagangan ilegal satwa liar, keindahan bagian tubuh satwa menjadi komoditas utama yang diperdagangkan.

Enggang gading yang memiliki ukuran panjang tubuh berkisar antara 110-120 cm serta panjang sayap antara 42-48 cm.

Dilansir dari laman resmi KLHK, burung ini memiliki keindahan memukau, yaitu pada balung padat berwarna oranye dan merah padam di atas paruhnya. Ia memiliki nilai seni dan estetika yang sangat menarik bagi sebagian kalangan sebagai hiasan, seperti bagi para kaisar di negeri Cina sejak masa Dinasti Ming.

Selain itu, balung enggan gading juga memiliki nilai magis sebagai simbol keberanian, keagungan, kepemimpinan, pelindung, serta jembatan antara roh leluhur bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Kondisi ini yang memperlemah keberadaan enggang gading di alam.

KLIK INI:  Membincangkan 4 Spesies Baru Kepiting yang Ditemukan di Indonesia
Satwa dilindungi

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan satwa ini dalam daftar satwa yang dilindungi.

Resminya burung ini sebagai satwa dilindungi tertera melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018.

Untuk mencegah agar tidak punah, upaya konservasi terus dilakukan oleh Ditjen KSDAE KLHK melalui penetapan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Enggang Gading 2018-2028.

SRAK inilah yang digunakan sebagai acuan oleh para pihak dalam melaksanakan 5 (lima) strategi dan program konservasi enggang gading.

Upaya ini ditindaklanjuti di tingkat tapak salah satunya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai Unit Pelaksana Teknis KLHK.

Dengan bekerja dengan Yayasan Planet Indonesia (YPI), BKSDA Kalbar mengimplementasikan aksi nyata  SRAK enggang gading tingkat tapak melalui program Pengelolaan Populasi dan Habitat Enggang Gading.

Isinya antara lain, penelitian terhadap ekologi dan perilaku enggang gading, monitoring populasi dan monitoring habitat, SMART Patrol, pemberdayaan masyarakat serta merehabilitasi dan merestorasi kawasan habitat enggang gading di dalam dan di luar kawasan konservasi.

KLIK INI:  Hanjuang, Tanaman Ritual yang Jadi Pembatas Kebun

Penelitian terhadap ekologi dan perilaku enggang gading dari program tersebut selama kurun waktu tiga tahun terakhir pada dua lokasi kawasan konservasi yang dikelola BKSDA Kalbar. Diketahui menghasilkan 68   titik perjumpaan dari 353  titik pengamatan.

Selain itu, penelitian ekologi dan perilaku enggang gading yang juga telah didukung dengan kegiatan lain dalam pengumpulan datanya, serta pengamanan prefentif kawasan dengan melibatkan masyarakat melalui SMART Patrol.

Diketahui sampai tahun 2019, telah mampu membentuk 6 tim untuk melakukan patroli di kawasan selama 517 hari dengan jangkauan telah mencapai 3.107 Km.

Selain mencatat perjumpaan satwa liar dan aktifitas masyarakat dalam kawasan konservasi. Mereka juga melakukan sosialisasi penyadartahuan pentingnya menjaga alam dan ekosistemnya, salah satunya terkait perlindungan enggang gading.

Efek positif dari program penelitian yang melibatkan SMART Patrol, mampu menurunkan gangguan terhadap kawasan konservasi oleh aktifitas masyarakat dalam kawasan.

Bukti penurunan aktifitas masyarakat dalam kawasan dapat dilihat dengan adanya kesadaran masyarakat yang sukarela menyerahkan senjata api rakitan sebanyak 115 unit di dua lokasi wilayah penyangga kawasan konservasi yang dikelola BKSDA Kalbar.

KLIK INI:  Belladonna, Tanaman yang Membuat Kisah Romeo dan Juliet Mengabadi
Petani hutan

“Setiap kerja konservasi itu selalu menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Demikian juga dengan konservasi enggang gading. Untuk itu diperlukan solusi menyeluruh yang menyentuh pada banyak aspek,” ujar Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta di Pontianak, 2 Juni 2020.

Ia menambahkan, upaya konservasi enggang gading yang dijalankan semestinya tidak semata-mata hanya menjaga satwanya ataupun ekosistemnya saja. Melainkan juga harus menggarap aspek sosial kemasyarakatannya. Juga harus  mengubah cara pandang masyarakat terhadap satwa dan ekosistemnya.

“Dilakukan dapat berdampak luas dan berjangka panjang,”  harapnya.

BKSDA Kalbar juga mengimplementasikan SRAK Enggang Gading dengan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat berbasiskan konservasi. Terutama dengan memberikan pendampingan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah penyangga kawasan konservasi. Tujuannya agar sejahtera, sehingga tidak lagi menggantungkan hidup dari berburu satwa liar seperti enggang gading.

KLIK INI:  Ketika Burung-burung Surga Kembali ke Habitatnya di Hutan Nyei Toro

Program pemberdayaan masyarakat ini berbentuk Pelayanan Usaha Masyarakat Berbasis Konservasi (PUMK). Terseber di tiap dusun/desa yang bergerak di bidang agroforestry/reboisasi, pertanian organik, literasi dan kesehatan masyarakat-lingkungan. Sampai Desember 2019 telah terbentuk sejumlah 10 (Sepuluh) kelompok PUMK dengan total anggota sebanyak 1.439 orang.

Adam Miller  Direktur Eksekutif Planet Indonesia International (PII) selaku mitra kerja BKSDA Kalbar dalam konservasi enggang gading  mengatakan enggang gading merupakan petani hutan. Ia  mampu menyebarkan benih dan buah dengan jelajah yang sangat luas.

“Spesies ini merupakan spesies payung yang mampu menjaga hutan serta makhluk lainnya,” ujarnya

Semoga dengan dukungan peran seluruh elemen, kelestarian enggang gading sebagai indikator penting dalam menjaga kelestarian hutan akan tercapai. Dengan demikian tujuan utama untuk melestarikan hutan untuk kesejahteraan masyarakat akan terwujud.

KLIK INI:  Pohon Waru, Bahan Mesiu dari Kerajaan Gowa