Bumi, Manusia, dan Pertobatan Ekologis

Klikhijau.com - Manusia membutuhkan bumi, tetapi setiap detiknya manusia (kita) “melukai” bumi atas nama kebahagiaan. Sebagian dari mereka inilah yang dinamai “manusia serakah” alias mereka yang menga...

Bumi, Manusia, dan Pertobatan Ekologis
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Manusia membutuhkan bumi, tetapi setiap detiknya manusia (kita) “melukai” bumi atas nama kebahagiaan. Sebagian dari mereka inilah yang dinamai “manusia serakah” alias mereka yang menganggap bahwa kebahagiaan itu ukurannya bersifat materil.

Apakah ini keliru? Tidak sepenuhnya keliru, sebab manusia memang punya naluri untuk hidup lebih baik dan bahagia. Namun libido bahagia yang berlebihan, kerap kali menciptakan kebutaan pada hati manusia. Lingkungan alam dan manusia sendiri jadi korbannya.

Libido keserakahan

Sepanjang masa, lahirlah manusia-manusia serakah yang basis impiannya adalah materi. Paham ini didukung penuh oleh Epicurus (341-270 SM), seorang materialis tulen yang percaya bahwa kesenangan jiwa akan tercapai usai kepuasan raga telah terpenuhi.

Oleh Adam Smith, keyakinan ini diperhalus dengan istilah individualisme—suatu naluri penting yang harus ditumbuhkan manusia untuk bisa hidup dan berkembang. Namun,  paham individualisme Smith menekankan pentingnya memerhatikan orang lain—inilah bedanya antara individualis dan egois (meski sama-sama berorientasi pada individu).

Hasrat hidup bahagia di atas kelimpahan material kemudian dirayakan oleh penganut mazhab Kyrene yang dicetus oleh Aristippus (435-355 SM) melalui paham hedonisme. Paham inilah yang mengarahkan isi kepala manusia bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk kenikmatan dan kebahagiaan.

Hedonisme kemudian menjadi cikal bakal tumbuhnya benih paham materialisme yang semarak di Erapa pada Abad 17-18 M. Paham ini bergenta dan membathin hingga kini. Semakin meluas dan mendarah daging dalam pikiran manusia.

Potretnya tampak jelas di depan mata, bumi dengan sumber daya dan daya dukung (carring capacity) terbatas dieksploitasi tanpa batas. Dinikmati oleh segelintir orang (individu yang dominan) bahkan dirusak tanpa pernah berpikir untuk kehidupan masa depan.

Oleh Mahatma Gandhi, dikatakan bahwa bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah.

Sebelumnya, filsuf sekaliber Plato pun telah mengingatkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan sejahtera secara merata, manusia perlu mengendalikan hasrat serakah dalam dirinya.

Ini dipertegas pula oleh Aristoteles bahwa sejatinya kebutuhan manusia itu tidak banyak, keinginannyalah yang relatif tanpa batas.

Hasrat serakah inilah yang pada akhirnya menciptakan tiga jurang kesenjangan. Jurang pertama adalah jurang ekologis, dimana manusia memerlukan 1,7 planet bumi untuk menopang gaya hidup dan hasrat hedonis mereka.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2