Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar

Klikhijau.com - Lelaki berkacamata itu sedang sibuk mencari spot foto.  Kameranya diarahkan ke jembatan kayu yang telah dicat warna-warni serupa  pelangi.  Ranselnya menggantung di pundaknya. Ia terli...

Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar
Bacakan Artikel

Mekail, pemuda asal Sudiang yang datang bersama tiga temannya juga  mengharapkan fasilitas harus ditingkatkan, khususnya pembangunan gazebo yang lebih besar agar  bisa memuat orang yang datang berkunjung. Mekail juga untuk pertama kalinya mengunjungi hutan mangrove tersebut.

“Tempat ini bagus untuk refreshing, hanya saja sepertinya masih kurang dipromosikan, tempatnya terkesan tersembunyi. Harus ada gerbang yang menunjukkan tempat ini agar masyarakat mudah menemukannya,” ujarnya. Ia mengaku sempat kesasar saat menuju lokasi.

Keberadaan hutan mangrove Lantebung  tidak bisa lepas dari sosok sederhana Saraba. Dari usaha kerasnyalah  yang tidak kenal menyerah menaklukkan penentangnya sehingga hutan mangrove Lantebung bisa dinikmati Izwar dan Mekail serta pengunjung lainnya.

Semuanya bermula dari keresahan dan kekhawatiran akan kelangsungan hidup warga kampung Lantebung, maka  pada tahun 1996 ia memulainya mengajak masyarakat   menanam dan memelihara mangrove. Ajakan itu tidak mulus, sebab ditentang oleh RT, RW, dan lurah setempat serta orang-orang yang punya kepentingan.

“Semua ini saya lakukan untuk masa depan anak cucu warga Lantebung. Kalau tidak berpikir ke depan bagaimana anak cucu warga di sini, mau ke mana mereka tinggal dan mencari nafkah?” ujar Saraba  serius.

Demi mewujudkan mimpinya, Saraba kerap mengajak warga Lantebung mengikuti pelatihan yang diadakan di hotel meski itu tidak mudah. Namun, setelah   Internasional Fund For Agricultural Develoment (IFFAD) yang merupakan lembaga internasional mulai melirik dan terlibat,  maka upaya penanaman dan pemelihara mangrove di Lantebung mulai memperlihatkan hasilnya.

“Pada tahun 2006, saya mengajak masyarakat studi banding ke Tangke-tangke, Sinjai,  sepulang dari sana kesadaran akan pentingnya pelestarian mangrove semakin mantap hingga sekarang,” ungkap Saraba. Kini setiap bulan selalu ada aksi penanam mangrove di Lantebung, bukan hanya dilakukan oleh warga loka,  tapi juga warga asing seperti Spanyol, Korea, Portugal, Amerika Serikat, Belanda dan lainnya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: