Jelajah Lembah Lohe, “Negeri Dongeng” dengan Tanjakan Seribu Penyesalan

Klikhijau.com – Sabtu 7 Oktober 2023 perjalanan kami menuju Lembah Lohe yang terletak di Desa Lengkese, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dimulai. Lokasi lembah Lohe sendiri terletak di bawah kaki gunu...

Jelajah Lembah Lohe, “Negeri Dongeng” dengan Tanjakan Seribu Penyesalan
Bacakan Artikel
delsi@gmail.com

Artikel terbaru dari delsi@gmail.com (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com – Sabtu 7 Oktober 2023 perjalanan kami menuju Lembah Lohe yang terletak di Desa Lengkese, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dimulai. Lokasi lembah Lohe sendiri terletak di bawah kaki gunung Bawakaraeng, Lompobattang, dan Bulu Baria.

Lembah Lohe merupakan wisata alam untuk berkemah yang dikelilingi dengan hutan lumut serta memberikan udara sejuk hingga mendapat julukan sebagai “Negeri Dongeng”.

Hal ini bukan tanpa alasan, keindahan alam dengan hutan lumut yang tampak hijau serta terdapat aliran sungai di sekitar lembah. Demikian memanjakan mata seolah lokasi ini hanya ilusi yang menggambarkan indahnya negeri dongeng dalam cerita fiksi.

Sebelum berangkat, kami berkumpul pada satu titik untuk mempersiapkan ransume dan peralatan kemah. Mengisi bahan bakar untuk kendaraan yang kami gunakan serta membeli beberapa cemilan.

Saat tiba di lokasi kami beristirahat sejenak, kemudian melakukan registrasi. Sebelum memulai perjalanan kami berdoa terlebih dahulu. Di awal perjalanan kami disambut plank yang bertuliskan “Selamat Datang di Tanjakan 1000 Penyesalan”. Narasi ini membuat saya sedikit ragu dan berpikir jalur seperti apa yang akan saya lalui nantinya, namun dengan semangat dari teman-teman saya meyakinkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

[irp]

Rute menantang

Untuk sampai ke Lembah Lohe memang membutuhkan kesabaran dan kekuatan fisik yang ekstra. Mengapa? Karena jalur yang ditempuh cukup ekstrim entah itu tanjakan yang sangat menguras tenaga dan juga turunan yang membuat kita harus berhati-hati. Juga karena banyaknya bebatuan di sekitar jalur yang dilalui.

Terlebih kami melakukan perjalanan malam dengan sekadar menggunakan senter sebagai penerang jalan. Jalan sunyi dan kegelapan terasa semakin sensasional lantaran suara hewan-hewan yang bersahutan khas hutan. Namun, perbincangan di sepanjang jalan membuat rasa lelah tiada terasa, tawa dan canda menyertai malam itu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: