Berikut Daftar Lengkap 8 Persemaian Skala Besar KLHK

oleh -77 kali dilihat
Kunjungan Menteri LHK, Siti Nurbaya ke Persemaian Liang Anggang (PLA)-foto/Ist

Klikhijau.com – Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) telah mengalami proses evolutif, terutama dalam hal pendekatan target dari yang awalnya berdasarkan jumlah bibit yang berhasil ditanam, menjadi jumlah luasan areal yang berhasil ditanami.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya saat Peresmian Persemaian Liang Anggang dan empat Persemaian Skala Besar lainnya

Adapun keempat Persemaian Skala Besar itu adalah Pusat Persemaian Mentawir yang berlokasi di Ibu Kota Nusantara (IKN),  Pusat Persemaian Rumpin yang berada Jawa Barat, Pusat  Persemaian Toba – Sumatera Utara, Persemaian Mangrove Bali, Pusat Persemaian Likupang – Sulawesi Utara,  Pusat Persemaian Labuan Bajo – Nusa  Tenggara Timur, dan Pusat Persemaian Mandalika – Nusa Tenggara Barat.

Pembangunan Persemaian Skala Besar merupakan paradigma baru dari pelajaran  sangat berharga, yaitu kombinasi kerja antara pola pembibitan banyak jenis bibit atau pohon yang biasa dilakukan pemerintah melalui Persemaian Permanen, dikombinasikan  dengan pembibitan skala sangat besar, dengan puluhan hingga juta bibit dengan pola monokultur yang biasa diterapkan oleh Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).

KLIK INI:  Membangun Karakter Cinta Lingkungan Tak Cukup dengan Buku Paket

“Catatan kritis Yth. Bapak Presiden pada kami di KLHK bahwa menanam pohon harus jelas hasilnya dan berapa luas dari hasil penanaman tersebut, bukan semata soal menanam 1 juta atau 1 milyar pohon dsb. Harus jelas dan ada realisasi konkrit tentang berapa luas hasil yang telah ditanam dan yang  akan dicapai pemulihannya hasil dari penanaman pohon,” ungkap Menteri Siti pada peresmian tersebut, Senin, (14/10/2024).

Dengan diresmikannya lima Persemaian Skala Besar, maka saat ini KLHK memiliki delapan persemaian skala besar sudah beroperasi, yaitu Pusat Persemaian Mentawir – IKN,  Pusat Persemaian Rumpin – Jawa Barat,  Pusat  Persemaian Toba – Sumatera Utara,  Persemaian Mangrove Bali,  Pusat Persemaian Likupang – Sulawesi Utara,  Pusat Persemaian Labuan Bajo – Nusa  Tenggara Timur,   Pusat Persemaian Mandalika – Nusa Tenggara Barat, dan Persemaian Liang Anggang di Kalimantan Selatan.

KLIK INI:  Kemenkes: Vape Miliki Risiko Lebih Berbahaya
Wujud komitmen dalam menangani perubahan iklim

Perlu diingat bahwa Indonesia serius dalam menangani dampak perubahan iklim, salah satunya melalui produksi bibit di persemaian skala besar dengan melibatkan perusahaan swasta yang bergerak di sektor perkebunan dan pertambangan, yang memiliki kepedulian dan komitmen untuk turut serta dalam mendukung aksi mitigasi perubahan iklim dan pembangunan nasional.

Karena itu, upaya penyediaan bibit secara besar-besaran melalui pembangunan persemaian skala besar, juga untuk terus mendorong perbaikan lingkungan melalui kegiatan rehabilitasi  hutan dan lahan, khususnya pada lahan-lahan kritis, daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor, waduk/bendungan, dan daerah-daerah tangkapan air pada semua tipe ekosistem.

“Sebagaimana komitmen-komitmen yang selalu disampaikan pada berbagai forum global/multilateral, Indonesia memandang sangat penting untuk memastikan bahwa  komitmen-komitmen tersebut dipenuhi melalui kebijakan dan aksi-aksi nyata, untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s  FOLU Net Sink 2030. Persemaian Skala Besar ini adalah  salah satu wujud konkretnya,” tutur Menteri Siti.

KLIK INI:  KLHK Tingkatkan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Sepuluh Kali Lipat di 2019

Pembangunan persemaian merupakan bagian dari kerja aksi mitigasi iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, percepatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, serta upaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon/tanaman serta meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat umum atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan khususnya  kegiatan penanaman pohon.

Menteri Siti mengungkapkan pula bahwa semua persemaian skala besar yang sudah beroperasi saat ini, memiliki kapasitas produksi 5 juta s.d. 15 juta bibit per tahun.

KLIK INI:  Menteri LHK Apresiasi Kinerja SPORC dalam Mengamankan Hutan di Indonesia

“Saya juga ingin menegaskan langkah-langkah selanjutnya bahwa proses evolutionary ini masih akan terus berlangsung, dan terutama pada konteks aksi mitigasi iklim melalui RHL  dengan didahului oleh persemaian untuk menyediakan tanaman. Langkah lanjut yang akan berkembang atau mau tidak mau harus dikembangkan dalam nexus iklim dan hutan,  climate and forest, yaitu berkenaan dengan sistem distribusi bibit, supervisi dan monitoring pertanaman, reward kredit karbon dengan aksi mitigasi iklim, pengembangan multiplier effect ekonomi bagi masyarakat,” terangnya.

Menurut Menteri Siti, hal itu semua akan menghasilkan kredit karbon yang berkualitas tinggi dengan kerja-kerja simultan aksi iklim yang berkualitas (partisipatif, regulatif, sistematis, multiplier) serta kredit karbon dengan environmental high integrity (transparent, accuracy, completeness, comparability dan consistency). ***

KLIK INI:  Survei APCO: Perubahan Iklim Jadi Prioritas Global, Masyarakat Ingin Transparansi