Barelle Cippo-Cippo

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi. Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampu...

Barelle Cippo-Cippo
Bacakan Artikel

Tetapi alangkah terkejutnya aku ketika membuka pintu.

Suaminya tanpa ba-bi-bu melayangkan tinjunya ke wajahku, mengucapkan sumpah serapah seperti orang kesurupan setan dan mengancamku untuk menjauhi istrinya, yang kukakugumi senyum bijaksananya itu.

Kuraih parang yang bertahun-tahun hanya menjadi pajangan di ruang tamuku. Dengan sekali sabetan, kuputuskan kedua belah tangannya. Tangan yang senantiasa menyiksa istri dan anak-anaknya.

[irp]

Aku sebenarnya ingin menamatkan hidupnya saat itu juga. Namun, kuurungkan saat istrinya berlari keluar dari rumahnya, memohon dengan suara khasnya yang lembut untuk mengampuninya. Kali ini tak ada senyuman seperti sebelumnya. Sebab laki-laki yang sangat ingin kuhabisi nyawanya itu telah membuatnya kehilangan gigi. Tak ubahnya barelle cippo-cippo yang pernah ia berikan padaku.

Ah, andai saja aku membunuh suaminya, atau seumpama saja ia memilih bercerai saja, aku bahkan tak akan menolak  jika disuruh menikahinya.

Aku mencintai dia? Entahlah. Yang kutahu pasti, banjir kini bukan hanya datang dua kali setahun di pekarangan rumahku maupun pekarangan rumahnya, kebunku ataupun kebunnya, tapi banjir menetap di mata suami istri itu, di mata anak-anak mereka dan juga mataku. ***

[irp]

Pilih Halaman: