Barelle Cippo-Cippo

Hati sepasang suami istri itu selalu saja banjir—tak pernah ingin surut. Meski di permukiman warga, banjir telah lama tiada, telah pergi. Sudah lima tahun lamanya mereka menjadi penghuni baru kampu...

Barelle Cippo-Cippo
Bacakan Artikel

Namun, setelah terjadi pengerukan dan penebangan pohon pinggir sungai serta pelebaran jalan, terasa perubahan yang begitu drastis.

Dulu hujan seminggu tak berhenti baru mengakibatkan banjir. Sekarang hujan sehari semalam besoknya sudah banjir.

“Semakin ke sini semakin jelas bahwa sebenarnya tangan-tangan manusia jualah yang berperan penting dalam kepunahan ekosistem di muka bumi ini,” gumamku sambil menatap sisa hamparan jagung yang di sapu banjir beberapa waktu lalu.

Pandanganku bisa merentang jauh—sejauh mata memandang karena tak ada lagi pepohonan yang menghalanginginya. Tatapanku juga jatuh padanya, aku ingin melihat matanya, mencari sisa tangisnya semalam. Tapi tak berhasil.

Dan sejak pepohonan itu ditiadakan, banjir mulai acap bertamu di kampung kami. Seperti setahun ini, banjir bertandang dua kali. Kali pertama di bulan Agustus, kali kedua di bulan Desember.

[irp]

Namun, banjir di mata sepasang suami istri yang terkenal sangat akur itu tak kenal musim dan menetap. Bahkan banjir pun meluap hingga ke mata anak-anak mereka.

----

Suatu sore, dari rumah mereka kudengar suara ribut. Anak-anak mereka bertengkar cukup keras. Ibunya dengan sabar melerai. Sedangkan ayahnya memilih untuk memukul si sulung dan juga istrinya yang tak terima anaknya dipukuli. Itu kejadian yang kesekian kalinya.

Lalu mertuanya, yang maaf kuceritakan paling terakhir karena tak terlalu penting dalam kisah ini—ikut menimpali. Ia menyalahkan didikan menantunya, menekan begitu kuat mentalnya dengan ujaran-ujaran kebencian. Menyalahkan kemiskinan yang tak kunjung pergi dari mereka karena kesialan menantunya itu.

Mungkin memang ia setype dengan mertua-mertua yang sering muncul di film-film. Merasa tersaingi dengan menantu sendiri. Tak jarang kudengar ia mengghibahi menantunya sendiri jika kebetulan ada acara kumpul-kumpul tetangga, menantu yang di mataku tak terdapat cela sedikit pun. Ah, sayang sekali, ia bahkan salah memilih mertua.

[irp]

----

Pagi belum begitu ranum ketika suara gedoran pintu terdengar di kamar tidurku. Aku bergegas membuka pintu, sudah kutebak pasti siapa yang bertamu sepagi itu. Sambil membayangkan buah apalagi yang akan disodorkannya tepat di depan pintu tanpa berani masuk untuk sekadar duduk di ruang tamuku. Barangkali nangka, atau bisa jadi semangka.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: