Astronomi Lokal Kewalahan Memprediksi Musim, Perubahan Iklim Didorong oleh Aktivitas Manusia?

Klikhijau.com - Belakangan, orang-orang tua kita di kampung semakin kewalahan menghadapi musim tanam untuk memulai aktivitas mereka di sawah maupun di kebun. Astronomi lokal kian kesulitan melakuka...

Astronomi Lokal Kewalahan Memprediksi Musim, Perubahan Iklim Didorong oleh Aktivitas Manusia?
Bacakan Artikel
irfan palippui

Artikel terbaru dari irfan palippui (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Belakangan, orang-orang tua kita di kampung semakin kewalahan menghadapi musim tanam untuk memulai aktivitas mereka di sawah maupun di kebun.

Astronomi lokal kian kesulitan melakukan prediksi. Kadangkala cuaca cerah, namun di luar dugaan hujan disertai angin kencang tiba-tiba menyerobot begitu saja.

Untuk wilayah Selatan Sulawesi Selatan, misalnya, kebanyakan warga meyakini  hujan sudah menipis di bulan Juli.  Namun, pengalaman terhadap musim itu terbantahkan tatkala dini hari (Rabu, 8/7/2021) hujan deras tiba-tiba mengguyur empat wilayah di Selatan Sulawesi Selatan dengan intensitas tinggi, hingga bencana tak dapat dielak.

Kejadian ini tentu saja menyisakan pilu terhadap warga terdampak. Betapa tidak, dari kejadian tersebut tidak sedikit rumah tenggelam di Bantaeng, puluhan ternak terbawa arus di Bulukumba, satu warga meninggal di Jeneponto, longsor di Sinjai, serta beberapa jembatan yang roboh.

Tampaknya, hujan memang agak lebih panjang di tahun 2021 ini. Pengetahuan astronomi warga lokal sekali lagi mendapat tantangan, untuk tidak mengatakan perlu melakukan analisa ulang serta penajamanan pengalaman atas perubahan-perubahan siklus alam yang bisa berubah seketika.

[irp]

Tidak hanya itu, para petani juga sudah selayaknya dapat mengakses dan memahami informasi-informasi lembaga sekelas BMKG agar kejadian seperti di atas tidak terulang kembali.

Pada bulan April 2021, misalnya, BMKG[1] telah memperingatkan agar mewaspadai datangnya siklon tropis seroja yang bermula di Nusa Tenggara Timur. Siklon Tropis Seroja tersebut berdampak signifikan di seluruh Indonesia, dan khususnya di Sulawesi berpotensi tebalnya curah hujan, petir dan angin kencang.

Bahkan, hingga bulan mei pemberitaan di media-media sudah mewanti-wanti akan adanya hujan disertai angin kencang melanda Sulawesi Selatan. Dalam rilisnya, BMKG[2] sudah menunjukkan pergerakan La Nina hingga Mei 2021 yang dapat memicu perubahan dan perbedaan cuaca secara global: dapat lebih basah atau kering, hangat atau dingin di seluruh dunia.

Artinya, warga sudah harusnya tahu lewat pengalaman menghadapi La Nina sebelumnya (atau melalui keseriusan pemerintah daerah masing-masing mengatasi potensi angin kencang disertai curah hujan tinggi itu), sehingga  tak ada lagi dampak signifikan yang diakibatkan oleh fenomena alam tersebut.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: