Akankah Kita Kehilangan Burung Penyanyi dari Asia Tenggara Itu?

oleh -370 kali dilihat
Akankah Kita Kehilangan Burung Penyanyi dari Asia Tenggara?
Burung murai batu/foto-kicaumania.ne
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Si penyanyi merdu itu akan segera tiada. Ia kini terancam punah. Kabar buruk itu adalah yang kesekian datang dari dunia hewan.

Ancaman kepunahan burung telah jadi hal yang kita anggap lumrah. Padahal di balik kepunahannya itu, tentu ada hal yang salah.

Kesalahan itu bisa disebabkan oleh manusia sendiri, yang tak hanya puas dengan mendengarkan kicaunya, tapi harus memburunya, memilikinya, dan menjualnya, bahkan pada perburuan itu bisa saja si burung mati tertembak lalu mati.

KLIK INI:  Agar Bertahan Hidup Burung Maleo Lintas Provinsi Cari Makan

Si penyanyi merdu itu adalah burung murai batu. Ia terkenal sebagai burung penyanyi dari Asia tenggara. Bagi para pecinta burung tentu tidak asing dengannya.

Berita ancaman kepunahan burung murai batu itu saya temukan pada artikel yang ditulis Mahmud Zulfikar di nationalgeographic.grid.id. Untuk lebih jelasnya saya tampilkan artikel tersebut

Burung Murai Batu memang tidak memiliki jenis warna bulu sebanyak burung lovebird, tapi kicauan merdu suaranya bikin hati adem mendengarnya.

Dilansir dari Kompas.com, ebuah analisis baru memaparkan, perdagangan burung murai batu (Copsychus malabaricus) di Asia Tenggara dalam beberapa dekade mengalami peningkatan.

KLIK INI:  Demi Seekor Burung, Sebuah Lapangan Bola di Amerika Ditutup

Habitat burung murai batu tersebar di pelosok Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian Pulau Jawa.

Penggemar burung yang terus bertambah membuat perburuan burung ikut meningkat. Kecintaan masyarakat kepada burung Murai Batu untuk dipelihara ataupun dijadikan sebagai peserta lomba kicau semakin menjamur.

Banyak diselundupkan

Hal inilah yang menyebabkan banyak spesies di alam liar mulai menemui kondisi terancam punah.

Spesies yang sudah menghilang pun tidak sedikit. Terhitung sudah 24 spesies berpindah dari habitat aslinya di wilayah Asia Tenggara akibat tingginya angka perburuan burung untuk diperjualbelikan.

“Permintaan yang tinggi untuk burung penyanyi di Asia Tenggara dan berkurangnya populasi mereka bukan lagi hanya masalah domestik. Ini telah menjadi masalah internasional yang harus diperhatikan,” kata Kanita Krishnasamy, Direktur TRAFFIC Asia Tenggara dikutip dari Kompas.com.

KLIK INI:  Dua Jenis Burung Ini Menghilang, Kemungkinan Telah Punah

Terdapat 4.280 ekor murai batu diselundupkan dari Malaysia ke Indonesia pada Juli 2017. Pada tahun 2019, setidaknya 1.627 ekor ditangkap dalam empat insiden baik di Indonesia dan Singapura.

Tingginya permintaan untuk membeli dari daerah-daerah seperti Jawa, Bali, Lombok dan Kalimantan. Hal ini telah diteliti oleh lembaga TRAFFIC, Monitor, YPI, Oxford Wildlife Trade Research Group, WWF Malaysia, Universitas Gadjah Mada dan PERHILITAN.

“Banyaknya penyitaan yang kami lakukan dalam dekade terakhir membuktikan bahwa ini adalah masalah yang mengkhawatirkan. Kita nampaknya akan kehilangan burung ini, meskipun nantinya, peraturan perdagangan berlisensi akan dibuat,” ujar Dato Abdul Kadir bin Abu Hashim, Direktur Jenderal Departemen Margasatwa dan Taman Nasional, Semenanjung Malaysia.

Nah, begitulah artikel yang ditulis Mahmud Zulfikar. Semoga saja artikel tersebut bisa mendorong kita untuk lebih mencintai dan menjaga satwa agar tetap lestari.

KLIK INI:  Manfaat Istimewa di Balik Hobi Mengamati Burung di Alam Bebas