- Atasi Persoalan Sampah,BRIN Kembangkan Pilot Project PLTSa Merah Putih - 16/04/2026
- Pemerintah dan CSO Kolaborasi Susun Peta Jalan Solarisasi Masjid, Integrasikan Ekosistem Wakaf dalam Transisi Energi - 16/04/2026
- Innit Lombok Peringati Hari Bumi dengan Komitmen Berkelanjutan di Teluk Ekas - 15/04/2026
Klikhijau.com – Nanoplastik yang berumah dalam tubuh manusia memiliki dampak tak terduga. Dampaknya berupa merampas keefektifan obat-obatan farmasi, termasuk antibiotik. Bahkan berpotensi meningkatkan risiko resistensi antibiotik.
Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports. Di mana para peneliti dalam studi tersebut mengamati bagaimana antibiotik umum tetrasiklin, yang sering digunakan untuk infeksi bakteri saluran pernapasan, kulit atau usus, berinteraksi dengan empat jenis nanoplastik dalam tubuh.
Keempat nanoplastik yang dimaksud adalah polietilena (PE), polipropilena (PP), polistirena (PS), dan nilon 6,6 (N66).
Nanoplastik berbeda dengan mikroplastik. Dilansir dari Republika mikroplastik memiliki ukuran dalam dalam skala mikrometer, sedangkan nanoplastik hanya berukuran nanometer.
Ukuran nanoplastik jauh lebih kecil dari mikroplastik. Mikroplastik biasanya masih dapat terlihat oleh mata atau mikroskop biasa, sementara nanoplastik hampir mustahil untuk terlihat.
Selain itu, nanoplastik terbentuk saat potongan-potongan plastik yang lebih besar terurai karena sinar UV, gelombang, enzim alami, atau faktor lingkungan lainnya.
Para peneliti baru-baru ini menemukan bahwa plankton dan udang karang Antartika di lautan mengurai mikroplastik dan mengubahnya menjadi plastik berukuran nano.
Meski begitu, nanoplastik juga dapat terurai dan terlepas ke udara, misalnya ketika seseorang memperbaiki pipa saluran pembuangan. Setelah mengudara, nanoplastik dapat melayang sejauh ribuan kilometer, hingga ke kutub bumi.
Penelitian terbaru tentang nanoplastik, yakni tim peneliti menggunakan simulasi dan percobaan in vitro untuk mempelajari interaksi antara antibiotik dan berbagai bentuk nanoplastik.
Para peneliti menemukan bahwa ketika nanoplastik hadir, penyerapan tetrasiklin berubah, sehingga kurang berhasil sebagai antibiotik. Khususnya ketika ada PS, antibiotik mengalami penurunan aktivitas biologis.
“Ikatannya sangat kuat dengan nilon,” kata Dr. Lukas Kenner, profesor di Universitas Kedokteran Wina dan salah satu penulis penelitian tersebut, dalam sebuah pernyataan dikutip dari The Guardian.
Kenner juga mencatat bahaya keberadaan nanoplastik di dalam ruangan dibandingkan dengan di luar ruangan dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi efektivitas antibiotik.
“Beban mikro dan nanoplastik sekitar lima kali lebih tinggi di sana daripada di luar ruangan. Nilon adalah salah satu alasannya: ia dilepaskan dari tekstil dan masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, misalnya.”
Mempengaruhi cara obat bergerak
Sebuah studi terpisah dari tahun 2022, sebagaimana dilaporkan Plastic Pollution Coalition, menemukan bahwa nanoplastik dapat masuk ke dalam darah dan organ hewan.
Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa meskipun konsumsi dan penghirupan nanoplastik sulit diukur karena ukuran partikelnya yang sangat kecil, para ilmuwan memperkirakan bahwa manusia mengonsumsi sekitar 5 gram mikroplastik per hari. Nanoplastik berukuran sekitar 1 hingga 1.000 nanometer, sedangkan mikroplastik berukuran sekitar 5 milimeter atau lebih kecil.
Selain mengungkap bagaimana partikel plastik menurunkan aktivitas biologis dalam antibiotik, para peneliti menemukan bahwa nanoplastik menyebabkan perubahan dalam cara obat bergerak melalui tubuh, yang berpotensi menyebabkannya masuk ke area yang tidak diinginkan.
Mereka juga khawatir bahwa dengan menjauhkan antibiotik dari area perawatan yang ditargetkan, nanoplastik juga dapat meningkatkan resistensi antibiotik, sehingga bakteri kurang rentan terhadap perawatan.
“Temuan kami bahwa konsentrasi antibiotik lokal pada permukaan partikel nanoplastik dapat meningkat sangat mengkhawatirkan,” kata Kenner.
“Pada saat resistensi antibiotik menjadi ancaman yang semakin besar di seluruh dunia, interaksi semacam itu harus diperhitungkan,” pungkasnya.








