5 Februari, Sejarah Penemuan Plastik Sintesis dan Kisah-kisahnya

oleh -1,255 kali dilihat
Penemu plastik, Leo Hendrik Baekeland
Penemu plastik, Leo Hendrik Baekeland
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Mungkin tak banyak yang tahu kalau tanggal 5 Februari adalah hari bersejarah bagi penemuan plastik sintesis.

Bicara soal plastik, memang sangat dilematis. Di sisi lain amat dibutuhkan dan membantu manusia dalam banyak keperluan. Tetapi, di sisi lain, manusia yang tergantung dengan plastik pada akhirnya akan tersiksa oleh sampah plastik.

Sifat plastik yang sulit terurai di dalam tanah menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup. Banjir misalnya, kerap terjadi akibat sisa sampah plastik yang terbuang dan menyumbat di sungai.

Tetapi, tahukah Anda bahwa sejarah penemuan plastik punya kisahnya sendiri. Mungkin, tak banyak yang mengetahuinya meski setiap saat akrab dengan benda satu ini.

Begini kisahnya! Plastik awalnya ditemukan pada Bangsa Olmec di Meksiko sekitar 150 tahun sebelum Masehi. Konon, mereka terinspirasi dari permainan bola yang terbuat dari polimer lain, yaitu karet.

Dari situlah, mulai ditemukan bahan lain yang dinyatakan lebih baik lagi, yaitu plastik sintetis.

Hari ini 112 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Februari 1907, plastik sintetis pertama ditemukan. Ketika itu, material ini dikenal dengan nama “bakelite”.

KLIK INI:  Jangan Sepelekan Perannya, Ini yang Akan Terjadi Bila Semut Punah

Dilansir dari Thoughtco seperti dikutip Kompas.com, bakelite ditemukan oleh seorang ilmuwan kenaman Belgia bernama Leo Hendrik Baekeland. Leo berhasil membuat plastik sintesis yang berbahan bakar fosil.

Temuan ini berbeda dengan yang sebelumnya terbuat dari tumbuhan dan hewan.

Leo Hendrik Baekeland, lahir di Ghent, Belgia pada 1863. Setelah meraih gelar doktor di Universitas Ghent, Baekeland mengajar selama beberapa tahun.

Pada 1889, dia melakukan perjalanan ke New York dalam untuk melanjutkan studi kimianya.

Penemuan besar pertamanya adalah “velox”, sebuah kertas cetak foto yang dapat dikembangkan di bawah cahaya. Kemudian, Baekeland menjual hak paten untuk velox ke George Eastman dan Kodak dengan harga 1 juta dollar AS pada 1899.

Dalam perkembangannya, dia membuat laboratorium sendiri di Yonkers, New York. Tujuan utamanya adalah menemukan barang yang mampu menggantikan lak (getah hasil sekresi serangga).

Lak ini mampu digunakan sebagai serat alami yang mampu digunakan untuk pelapis, perekat, kain tenun, dan sejenisnya. Hingga akhirnya, Baekeland berhasil mengembangkan bakelite sebagai resolusi sintesis ketika itu.

KLIK INI:  Pesona Mart, Jendela Pemasaran Produk Perhutanan Sosial

Awalnya bakelite dikembangkan dengan menggabungkan fenol, desinfektan umum, dengan formaldehida, Bakelite dirancang sebagai pengganti sintetis untuk shellac yang digunakan dalam isolasi elektronik.

Pada tahun 1909, bakelite diperkenalkan kepada masyarakat umum di sebuah konferensi kimia. Beberapa orang mulai terlihat antusias ketika melihat produk plastik sintetis ini.

Oya, di awal perkenalannya, bakelite dikenal sebagai barang mewah dengan nilai jual cukup mahal. Namun, karena banyaknya permintaan, bakelite digunakan untuk membuat segala sesuatu mulai dari gagang telepon dan perhiasan kostum, hingga pangkalan dan soket lampu untuk bagian-bagian mesin mobil dan komponen mesin cuci.

Beberapa tahun kemudian, Baekeland mendirikan Bakelite Corp yang menghadirkan bahan plastik sintesis pertama. Bahkan, Baekeland memperoleh sekitar 400 paten yang berkaitan dengan ciptaannya.

Pada 1930, perusahaannya menempati pabrik seluas 128 hektar di New Jersey dan semakin bisa memenuhi kebutuhan pasar akan plastik sintesis.

Sayangnya, bakelite bukanlah isolator yang baik seperti seluloid. Karenanya, berbagai penelitian lanjutan terus dikembangkan untuk mencari plastik baru.

Selanjutnya, Baekland menggunakan fenol, asam yang berasal dari batubara. Hasilnya, bisa menghadirkan polystyrene hingga nilon.

Pada 1944, Baekeland, pria yang mengantarkan usia plastik, meninggal pada usia 80 tahun di Beacon, New York.

KLIK INI:  7 Isu Lingkungan Hidup yang Masih Jadi Fokus Utama di Tahun 2022