Klikhijau.com – Masalah klasik dalam dunia peternakan selalu kembali pada satu hal yakni ketersediaan pakan. Saat musim kemarau tiba, peternak kerap mengandalkan jerami padi sebagai solusi darurat. Namun, jerami hanya memberi rasa kenyang pada ternak tanpa gizi memadai. Akibatnya, sapi kenyang tetapi tetap kurus.
Berangkat dari persoalan itu, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros (FAPERTAHUT UMMA) menghadirkan sebuah terobosan lewat konsep Zero Waste Livestock.
Ide ini dikenalkan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, dan bimbingan teknis (Bimtek) bersama Kelompok Tani Garonggong, Lingkungan Macoa, Kelurahan Soreang, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros bulan lalu.
Kegiatan yang dipimpin oleh Mirnawati, S.Pt., M.Pt., bersama anggota tim Dr. Muh. Risal, S.Pt., M.Si. dan Hajar, SE., MM., turut dihadiri Koordinator BPP Kecamatan Lau, PPL Kelurahan Soreang, perwakilan BSMB-TPH Sulsel, dosen FAPERTAHUT UMMA, hingga seluruh anggota kelompok tani.
Mirnawati menjelaskan, selama ini peternak hanya memanfaatkan jerami padi secara langsung.
“Nilai nutrisi jerami sangat rendah, hanya membuat ternak merasa kenyang tapi gizinya minim. Padahal ternak butuh asupan protein dan mineral agar bisa tumbuh sehat,” ujarnya.
Di sinilah konsep Zero Waste Livestock hadir. Petani tidak lagi membuang jerami, melainkan mengolahnya kembali menjadi pakan bergizi. Caranya melalui teknologi fermentasi dan penambahan tanaman hijauan unggul, yakni Indigofera zollingeriana.
Sementara itu, salah satu dosen anggota PKM, Dr. Muh. Risal, S.Pt., M.Si. menerangkan bahwa tanaman Indigofera, yang kerap disebut “suplemen alami ternak”, memiliki kandungan protein tinggi (25–28%) serta kaya mineral, vitamin, dan serat.
“Jika dikombinasikan dengan jerami padi, hasilnya adalah complete feed—pakan komplit yang murah, bergizi, dan bisa dibuat sendiri oleh peternak,” ujar Dr. Muh. Risal.
Ia mengungkapkan bahwa metode pembuatan pakan ini relatif sederhana. Jerami dicacah, dicampur dengan daun Indigofera, kemudian difermentasi hingga siap disajikan sebagai silase. Peternak tak lagi harus membeli pakan mahal, melainkan bisa mandiri dengan bahan yang ada di sekitar.
“Hasilnya bukan hanya mengurangi biaya produksi, tetapi juga menjadikan peternakan lebih ramah lingkungan. Limbah pertanian tidak lagi terbuang sia-sia, justru berubah menjadi sumber gizi ternak,” tambah Mirnawati.
Zero Waste Livestock membuka jalan baru bagi peternakan berkelanjutan. Konsep ini menjawab tiga tantangan sekaligus: kebutuhan pakan, efisiensi biaya, dan keberlanjutan lingkungan.
“Bayangkan, ternak kenyang, kantong peternak aman, dan lingkungan bebas sampah. Inovasi sederhana ini bisa memberi dampak luar biasa,” pungkas Mirnawati.








