Yang Pertama Mengencingi Bumi

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah. Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, men...

Yang Pertama Mengencingi Bumi
Bacakan Artikel

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah.

Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, mengeluarkan air dari kelaminku. Aku menahannya.

Di tempatku bermula, setiap penghuni tak perlu kencing dan membuang tahi, makan dan minum saja sebanyak yang ia bisa.

Namun, sejak tiba di Ale Lino—kolong langit tiga hari lalu banyak hal berubah dalam tubuhku. Aku mulai merasakan ingin kencing dan membuang tahi.

[irp]

Perutku terasa ingin meledak, menghamburkan isinya. Kembung dan rasa asing menyergap dari segala arah.

Aku ingat, di Boting Langiq—dunia atas, resah menyambar dan menetap pada napasku yang sulit diembuskan. Ketika siur kabar, ayahku, Patotoqe  akan menetapkan tunasnya di dunia tengah yang gulita, tanpa kehidupan. Tempat menyabung kilat, tempat segala asing bertumbuh.

Aku yang sedang berada di bilik yang dipeluki cahaya ketika mendengar kabar itu langsung mengernyitkan dahi dan menebalkan doa—aku tak ingin jadi yang terpilih, aku tak rela meninggalkan Boting Langiq yang akan diwariskan Ayah kepadaku, kelak ketika waktu itu sampai pada seharusnya.

Bukan hanya diriku, tapi kedelapan saudaraku pun mengalami gamang serupa, kecuali si bungsu, Batara Unruq Aji Mangkauq yang hanya sesekali tampak wajah gelisahnya. Ia masih terlalu bocah untuk mengerti.

[irp]

We Nyiliq Timoq

Tepat pada delapan malam terbitnya bulan, saat hari pasar di Boting Langiq. Saudara, sepupu dan ponakan ayah dan ibuku datang.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: