Klikhijau.com – Cuaca semakin sulit diterka maunya apa. Di Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Bulukumba bagian Kindang dan sekitarnya. September adalah bulan datangnya kemarau. Namun nyatanya tidak demikian.
Beberapa hari belakang, hujan justru datang mengguyur. Prediksi cuaca para tetua buyar. Bahkan selama sepekan ke depan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang akan melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulsel.
BMKG memprediksi pada periode 12–14 September, angin kencang berpeluang terjadi Sulsel, Kepulauan Riau,dan Maluku. Sementara hujan lebat berpotensi terjadi di Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Sementara itu, pada 15–18 September, hujan lebat diprediksi melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, dengan potensi angin kencang masih mengintai Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa dinamika atmosfer saat ini cukup kompleks dan berkontribusi pada peningkatan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai daerah.
“Dinamika atmosfer saat ini memicu potensi hujan lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang yang perlu diwaspadai masyarakat maupun pemerintah daerah. Cuaca ekstrem ini dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, maupun gelombang tinggi,” ujarnya di Jakarta, Jum’at (12/9/2025).
Dwikorita menjelaskan, sejumlah faktor atmosfer memicu kondisi ini. Fase Dipole Mode Index (DMI) negatif (−1,27) dan anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif mendukung pembentukan awan hujan.
Keadaan ini diperkuat oleh aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, Rossby ekuator, serta gelombang atmosfer frekuensi rendah yang sedang aktif. Tak hanya itu, bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia barat Bengkulu juga menciptakan konvergensi dan konfluensi angin, sementara pola siklonik di Kalimantan Utara turut memperbesar peluang hujan.
Belajar dari Bali
Banjir dan longsor melanda Bali pada 9–10 September 2025, menunjukkan betapa dahsyatnya dampak hidrometeorologi basah yang luar biasa. Kejadian tersebut menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang cepat dan akurat.
Bencana yang melanda Bali memang sangat mengguncang. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan lebih dari 120 titik banjir. Denpasar menjadi wilayah yang paling parah dengan 81 titik banjir, disusul Gianyar (14 titik), Badung (12 titik), Tabanan (8 titik), Karangasem dan Jembrana (masing-masing 4 titik), serta Klungkung di Kecamatan Dawan.
BMKG telah mengeluarkan peringatan sejak 5 September 2025 melalui perkiraan cuaca mingguan, diperkuat dengan peringatan dini tiga harian, hingga pembaruan setiap jam melalui sistem nowcasting saat hujan ekstrem mulai terjadi. Selama periode 9–10 September, BMKG menerbitkan 11 pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bali.
Menurut laporan melaporkan BMKG, penyebab utama banjir ini adalah curah hujan harian yang sangat tinggi. Di Jembrana, curah hujan mencapai 385,5 mm dalam sehari, diikuti Tampak Siring (373,8 mm), Karangasem (316,6 mm), Klungkung (296 mm), dan Abiansemal (284,6 mm). Bahkan, beberapa daerah lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, hujan dengan curah di atas 150 mm per hari sudah termasuk kategori ekstrem.
Dwikorita mengatakan, curah hujan ekstrem ini disebabkan oleh kombinasi faktor regional dan lokal. Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil di Bali, meningkatkan risiko terbentuknya awan hujan secara besar-besaran.
Selain faktor cuaca, BMKG juga menyoroti masalah lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir. Sistem drainase di beberapa wilayah tidak mampu menampung volume air hujan yang sangat besar, diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.
Tidak hanya itu, alih fungsi lahan dari area resapan air menjadi permukiman dan bangunan komersial juga mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, sehingga risiko banjir semakin tinggi.
Dwikorita mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Masyarakat diharapkan memantau informasi resmi dari BMKG secara rutin melalui aplikasi, media sosial, maupun televisi.
Selain itu, langkah-langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan saluran drainase dan tidak membuang sampah sembarangan diharapkan dapat mengurangi dampak banjir.
“Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik, kita bisa meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan,” tutup Dwikorita. (*)








