- Perdagangan Satwa Liar Bukan Hanya Pelanggaran Hukum, Tapi Juga Ancaman Keseimbangan Ekosistem - 17/04/2026
- Atasi Persoalan Sampah,BRIN Kembangkan Pilot Project PLTSa Merah Putih - 16/04/2026
- Pemerintah dan CSO Kolaborasi Susun Peta Jalan Solarisasi Masjid, Integrasikan Ekosistem Wakaf dalam Transisi Energi - 16/04/2026
Klikhijau.com – Spesies burung mengalami kepunahan yang signifikan. Sebuah penelitian terbaru telah mendokumentasikan 610 spesies burung telah mengalami kepunahan selama 130.000 tahun terakhir. Itu bertepatan dengan penyebaran spesies Homo sapiens secara global.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science itu juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun dan dekade terakhir, krisis burung yang semakin parah.
Hilangnya spesies burung menurut para peneliti memiliki konsekuensi ekologis. Sebab hal itu dapat menghapus fungsi burung dalam keseimbangan ekosistem, yang perannya sangat penting, misalnya sebagai penyerbuk hingga pengendali hama.
Tom Matthews, ahli ekologi dari Universitas Birmingham di Inggris dan penulis utama studi tersebut mengatakan, burung menjalankan sejumlah fungsi ekosistem yang sangat penting, yang banyak di antaranya bergantung pada kita, seperti penyebaran benih, konsumsi serangga, daur ulang bahan mati, misalnya, burung nasar, dan penyerbukan.
“Jika kita kehilangan spesies, maka kita kehilangan fungsi-fungsi ini,” katanya.
Matthews memberi contoh bahwa di kepulauan Mauritius dan Hawaii, semua atau hampir semua burung pemakan buah asli atau burung pemakan buah telah punah. Hal tersebut menurutnya dapat memicu “kepunahan susulan. Karena Mauritius kini memiliki banyak spesies pohon yang terancam
“Frugivora merupakan fungsi yang penting, karena dengan memakan buah-buahan dan kemudian berpindah-pindah, burung akan menyebarkan benih tanaman tempat buah-buahan itu berada,” kata Matthews sebagaimana dikutip dari Reuters.
Kepunahan yang terdokumentasi sebagian besar terjadi di pulau-pulau. Hilangnya habitat dapat berdampak besar mengingat isolasi dan berkurangnya wilayah yang terlibat.
“Sementara masuknya hewan seperti tikus, kucing, dan mencit dapat berdampak besar mengingat evolusi ketidakmampuan terbang di antara banyak burung endemik pulau yang membuat mereka tidak dapat melarikan diri dari predator baru,” kata Matthews.
Karena ulah manusia
Penyebab lain menurut Matthews adalah perburuan manusia yang menjadi salah satu penyebab utama kepunahan di masa lalu dan masih menjadi masalah di beberapa wilayah. Menangkap burung untuk perdagangan burung penyanyi merupakan masalah besar, terutama di Asia Tenggara.
Wilayah dan spesies tertentu memiliki faktor yang lebih spesifik. Misalnya, malaria burung, yang dibawa oleh manusia, telah memicu sejumlah besar kepunahan di Hawaii – khususnya di antara burung endemik Hawaii – di mana burung tersebut tidak memiliki kekebalan alami.
“Hal yang tidak diketahui ke depannya adalah peran perubahan iklim antropogenik sebagai pendorong,” kata Matthews.
Campur tangan manusia telah memunahkan banyak burung. Termasuk burung gajah (Aepyornis maximus) endemik Madagaskar. Burung ini tidak bisa terbang. Setelah manusia datang, burung ini pun punah. Aepyornis maximus mungkin merupakan burung terbesar yang pernah ada, tingginya sekitar 10 kaki (3 meter).
Tidak hanya Aepyornis maximus, burung moa yang juga tidak bisa terbang dan merupakan endemik Selandia Baru, termasuk moa raksasa Pulau Selatan juga punah setelah manusia menjajah pulau-pulau tersebut.
Begitupun dengan merpati penumpang migrasi Amerika Utara berjumlah miliaran, namun diburu oleh manusia hingga punah.
Ke-610 spesies tersebut menurut para peneliti jika digabungkan mewakili 3 miliar tahun sejarah evolusi yang unik, di mana setiap spesies yang punah bagaikan memotong cabang pohon kehidupan.
Matthews mengatakan bahwa angka 610 kemungkinan besar merupakan perkiraan yang terlalu rendah” dari kepunahan burung. Hal itu disebabkan karena minimnya data dari beberapa lokasi dan fakta bahwa beberapa spesies yang punah mungkin tidak meninggalkan sisa-sisa kerangka yang dapat ditemukan.
Terlepas dari angka sebenarnya, kata Matthews, “sebagian besar kepunahan selama 50.000 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.”
Sekitar 11.000 spesies burung kini ada, menempati berbagai relung ekologi yang sangat luas. Para peneliti memproyeksikan kepunahan lebih dari 1.000 spesies di masa mendatang selama dua abad mendatang.
“Jadi, meskipun Anda tidak peduli dengan masalah moral dan etika terkait hilangnya spesies, kepunahan ini penting karena alasan lain, seperti hilangnya spesies yang membantu lingkungan berfungsi secara efektif,” pungkas Matthews.
Sumber: Reuters








