Tips Ramah Lingkungan dan Ramah Hati agar Anak-Anak Doyan Sayur tanpa Drama

Klikhijau.com - Sayur, dengan segala warna dan bentuknya, seolah jadi musuh bebuyutan anak-anak. Padahal, kalau mau jujur, sayuran itu sumber energi yang luar biasa, sebab mengandung vitamin, serat, m...

Tips Ramah Lingkungan dan Ramah Hati agar Anak-Anak Doyan Sayur tanpa Drama
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sayur, dengan segala warna dan bentuknya, seolah jadi musuh bebuyutan anak-anak. Padahal, kalau mau jujur, sayuran itu sumber energi yang luar biasa, sebab mengandung vitamin, serat, mineral, dan antioksidan yang tidak bisa diganti oleh camilan instan.

Tantangannya adalah bagaimana caranya membuat anak-anak melihat sayur bukan sebagai hukuman, tapi sebagai hadiah kecil dari bumi?

Padahal mencintai sayur juga berarti mencintai bumi. Setiap gigitan sayur adalah sambungan langsung antara tubuh kecil mereka dan tanah tempat sayur tumbuh.

Mengajarkan anak makan sayur bukan sekadar soal nutrisi. Itu juga bagian dari menanamkan cinta pada bumi sejak dini. Setiap sayur yang tumbuh di ladang berasal dari kerja sama harmonis antara tanah, air, matahari, dan tangan petani.

[irp]

Lalu bagaimana cara agar anak menyukai makan sayur, berikut tips sederhananya:



  • Menyulapnya jadi pohon mini di negeri dongeng



Anak-anak itu makhluk imajinatif. Mereka bisa percaya bahwa sepotong kardus adalah kapal luar angkasa, jadi kenapa tidak percaya bahwa sayur, misalnya brokoli adalah pohon mini di hutan dinosaurus?

Ilustrasinya bisa begini, di atas piring putih, berdiri brokoli hijau yang menyerupai pohon raksasa. Sahabat hijau bisa bertutur begini:

“Ini hutan kecil tempat dinosaurus makan. Kalau kamu makan pohonnya, dinosaurusnya bisa ikut main di perutmu dan kamu adalah sahabatnya!” Seketika sayur bukan lagi hambatan, melainkan bagian dari permainan.

Trik ini sederhana tapi efektif. Saat anak merasa sayur punya cerita, mereka lebih penasaran dan rela mengunyah tanpa harus disuruh berkali-kali.

[irp]



  •  Mengajak anak jadi koki kecil



Anak yang diajak ke dapur sering merasa punya kuasa lebih. Bayangkan seorang bocah lima tahun berdiri di kursi dapur, tangannya belepotan adonan lumpia isi wortel dan kol. Dia ketawa-tawa saat wortelnya jatuh ke lantai, lalu bilang, “Ini punyaku, jangan dimakan ya!”

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2