Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?

Klikhijau.com - Enam bulan terakhir jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 adalah fase terbising dalam hidup kita. Bising oleh suara-suara politik, di sosial media, di kantor,  di warung kopi, hingga di...

Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Enam bulan terakhir jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 adalah fase terbising dalam hidup kita. Bising oleh suara-suara politik, di sosial media, di kantor,  di warung kopi, hingga di rumah.

Kebisingan di ruang-ruang itu tentu belum seberapa bila dibandingkan dengan maraknya Alat Peraga Kampanye (APK) yang menghiasi sisi jalan. Di mana-mana!

Sejumlah riset menunjukkan bahwa separuh bahkan lebih dari pembiayaan kandidat habis untuk APK seperti baliho, umbul-umbul, stiker, selebaran, dan lainnya.

Saya pernah termenung-menung memikirkan ini dan mengalikan dengan jumlah Calon Legislatif (Caleg) di semua level, hasilnya mencengankan. Miliaran uang terhambur pupus tanpa manfaat yang begitu berarti.

Namun, bukan soal itu saya tertarik menulis artikel ini. Sebab, faktanya, demokrasi di Indonesia telanjur berbiaya mahal. Selain model politik transaksional dan gaya kampanye, strategi politik uang sepertinya masih diyakini mumpuni.

Yang membuat saya gelisah adalah berapa banyak sampah yang dihasilkan selama masa kampanye? Lalu ke mana saja sampah itu meluber?

Sampah kampanye

Selama masa kampanye politik, jumlah pertemuan tatap muka sangat banyak. Di setiap pertemuan yang menghadirkan "massa" itu, kita akrab dengan "nasi dus", air minum kemasan, tissue, kertas-kertas dan lainnya.

Untuk sekali pertemuan saja yang menghadirkan seratus peserta misalnya, bisa dibayangkan volume sampahnya. Bagaimana bila ada puluhan ribu caleg menggelar puluhan kali pertemuan di titik berbeda setidaknya dalam enam bulan? Puyeng mikirnya.

Bayangkan bila aktivitas kampanye itu digelar di pelosok, di mana sampah seringkali hanya dibuang ke parit, ke sungai atau dibakar. Bayangkan pula ada berapa banyak sampah tergeletak sembarangan menunggu waktu ratusan tahun sebelum terurai di tanah.

Kita sibuk memikirkan segala hal berbau politik sebagai bangsa "melek politik", tetapi kita lupa merefleksi dampak ekologis di balik kebisingan demokrasi ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2