Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?

Klikhijau.com - Enam bulan terakhir jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 adalah fase terbising dalam hidup kita. Bising oleh suara-suara politik, di sosial media, di kantor,  di warung kopi, hingga di...

Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?
Bacakan Artikel

Bayangkan bila aktivitas kampanye itu digelar di pelosok, di mana sampah seringkali hanya dibuang ke parit, ke sungai atau dibakar. Bayangkan pula ada berapa banyak sampah tergeletak sembarangan menunggu waktu ratusan tahun sebelum terurai di tanah.

Kita sibuk memikirkan segala hal berbau politik sebagai bangsa "melek politik", tetapi kita lupa merefleksi dampak ekologis di balik kebisingan demokrasi ini.

Jangan-jangan kegembiraan berdemokrasi sebagai sebagai sebuah pesta, justru jadi duka lara bagi bumi. Hari ini pesta akan digelar dan dituntaskan, tetapi masalah sampah menggerogoti kita di kemudian hari.

Beban Sampah dan Eco Demokrasi

Peneliti dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Joko Pitoyo menuturkan, dalam 9 tahun kedepan, volume sampah padat di kota-kota besar dunia diperkirakan mencapai 2,2 miliar ton pada tahun 2025.

Volume tersebut, kata dia, mengalami kenaikan sekitar 77 persen dari realisasi tahun 2016, yang tercatat sebanyak 1,3 miliar ton (ANTARA, 2016).

[irp posts="3138" name="Harusnya Para Caleg Tahu, Ini Dampak Buruk Memaku Pohon"]

Menurut Agus, mayoritas kenaikan jumlah sampah tersebut terjadi di kota-kota berkembang. Di Indonesia sendiri, jumlah sampah padat yang diproduksi secara nasional mencapai 151.921 ton per hari.

Hal itu berarti, setiap penduduk Indonesia secara rata-rata membuang sampah padat sebesar 0,85 kilogram (kg) setiap hari.

Agus Joko Pitoyo menemukan bahwa total sampah yang dihasilkan secara nasional hanya 80 persen yang berhasil dikumpulkan, dan sisanya terbuang mencemari lingkungan.

Volume sampah meningkat

Umumnya, sebanyak 1,5 persen membuang sampah ke laut; membuang ke kali/got sebanyak 5,3 persen; membakar sampah 24,8 persen, dan sebanyak 1,4 persen masyarakat yang menimbun sampahnya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: