Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?

 Kayu yang Lapuk di Mata Ayah   Aku tak tahu rahasia apa yang ayah sembunyikan rapat-rapat dari ibu Ketika aku berusaha mencuri dengar Suara dobrakan pintu lebih nyaring dari dengkuran aya...

Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?
Bacakan Artikel

Kotaku yang konon dipenuhi mitos akan hewan purba. Namun tak banyak yang tersisa selain lelawa dan kicauannya di pusat kota.

Kau selalu penasaran apakah makhluk seperti itu benar-benar dijaring oleh jalan-jalan kosong

Atau hewan-hewan itu berkelana pada kepedihan-kepedihannya masing-masing.

Lalu matamu beralih ke akasia alih-alih ke pohon asam, pohon itu akan mati cepat, dan memang benalu memeluknya seperti aku ingin selalu memelukmu namun gagal

Bumi telah mengetahui sejak lama barangkali. Bahwa kotaku sangat ramah pada burung-burung mungil, dan langkah kaki pengembara. Seperti ia mengetahui terkadang pohon-pohon harus ditebang demi menyulap gedung tua menjadi taman kota

Kau bergerak menyusuri keramik-keramik serupa batu alam
Menegadah ke atas membiaskan ketidakterbatasan kata yang kau miliki
Aku menjelma seseorang yang begitu lapar akan tawa yang minta dipanen di wajahmu

Aku ingin sekali menyusulmu, berusaha untuk menggapai tanganmu lalu puisi-puisi jatuh begitu saja meniadakan kau dan aku

Sungguh, aku ingin kau tetap tinggal dan melupa jalan pulang.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: