Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?

 Kayu yang Lapuk di Mata Ayah   Aku tak tahu rahasia apa yang ayah sembunyikan rapat-rapat dari ibu Ketika aku berusaha mencuri dengar Suara dobrakan pintu lebih nyaring dari dengkuran aya...

Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?
Bacakan Artikel

Lama setelah peristiwa itu terjadi, ketika musim telah ranum oleh aroma buah melon, ibu mengajakku menemui ayah di rumah barunya.

Lama setelah peristiwa itu terjadi, ketika musim telah ranum oleh aroma buah melon, ibu mengajakku menemui ayah di rumah barunya.
Rumah ayah terlalu ramai. Banyak penghuni. Tapi tidak lebih bagus dari rumah tak selesai di bangun ibu

Kutatap ayah pelan-pelan menelisik apakah ia ayah yang dahulu pandai mengasah keris?
Tapi pertanyaan itu tak mampu terlontar ketika mata kecilku melihat mata ayah.

Kenapa kau harus ikut menebang pohon di hutan itu? Tanya ibu dengan suara yang terasa menikam jantung

Aku hanya ingin memberimu kayu bakar. Kayu itu ditanam nenekku lalu mereka mengambilnya sebagai hutan kawasan. Kau seharusnya tak berhak bertanya apa-apa.

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Mata ibu menajam seperti jarum pentul, sedang mata ayah, tak ubahnya kayu lapuk yang dimakan rayap.
Dan lagi-lagi, lelaki berseragam itu datang memisahkan ayah dan ibu.

[irp]

Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?


 

Tak terasa waktu membawamu berjalan ke kotaku.  Namun aku tak punya banyak waktu untuk merayakan kedatanganmu.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: